Bengkelkreatif.id merupakan platfrom media yang dibangun dan dikembangkan sebagai salah satu unit kegiatan Sanggar SEP (Seni Etnik Padangsidimpuan) beserta semua lembaga jaringan kerja kebudayaan seperti Pusat Kajian dan Pengembangan Kebudayaan Angkola, Padangsidimpuan Menulis, dan Sahata Institute (Sahata Institute for Public Policy Research and Consulting).
Semua lembaga dalam jaringan kerja Sanggar SEP merupakan organisasi-organisasi nirlaba yang bergerak di bidang kajian dan pengembangan kebudayaan daerah di wilayah Tapanuli bagian Selatan (Tabagsel) dan memfokuskan diri pada usaha pengumpulan karya-karya budaya tradisional untuk dokumentasi dalam rangka pemajuan kebudayaan, meningkatkan pengetahuan, kreativitas, inovasi masyarakat dalam menghasilkan karya-karya budaya dengan melakukan kegiatan pendidikan alternatif, pementasan karya, dan pembinaan komunitas-komunitas budaya.
Dari kerja-kerja kebudayaan yang dilakukansejak 2010, sebagian telah diubah dan ditulis ulang dengan penambahan data hasil kajian komparasi dan diterbitkan sebagai buku: Sipirok Nasoli Banua Nasonang (2010), Sutan Pangurabaan Pane: Tokoh Budaya yang Mendirikan Muhammadiyah, Berjuang Lewat Tulisan (2019), Sahala, Sipirok Dalam Putaran Sejarah Revolusi Fisik 1946-1948 (2020), Parompa Saudun, Ungkapan Cinta yang Dilupa (2021), dan Historiografi Padangsidimpuan (2022).
Sejumlah manuskrip buku juga telah dihasilkan seperti Masyarakat Adat Pra-Indonesia di Keresidenan Tapanuli, masyarakat adat di Keresidenan Tapanuli selama periode 1885-1905 menghadapi moderenisasi yang sangat cepat, membuat mereka meninggalkan warisan budayanya sebelum sempat mencatatnya, dan mengadopsi gagasan nasionalisme untuk mendorong intelektual melakukan gerakan-gerakan nasionalism seperti dalam kasus berdirinya organisasi Indische Vereeniging pada 25 Oktober 1908.
Ada juga Universalitas Orang Ulu di Muara Sipongi, sejarah masyarakat yang memilih terbuka atau menerima semua pengaruh budaya untuk menciptakan kebudayaan yang khas dirinya sendiri, Migrasi Orang Dari Purba ke Dangsina, kajian sejarah budaya tentang penyebaran masyarakat marga Siregar dari Utara ke Selatan, dan Masyarakat Adat Batak Membentur Tembok Negara, yang mengkaji konflik-konflik pertanahan sejumlah masyarakat adat yang ada di wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan.
Dokumentasi atas warisan para maestro budaya lokal seperti adat-istiadat dikumpukan sebagai bahan pembelajaran untuk generasi muda seperti Adat Boru Marbagas, Warisan Leluhur Tentang Pentingnya Berumah Tangga, Peninggalan Sejarah di Bekas Keresidenan Tapanuli, Situs Pemakaman Kuno di Hopong, Situs Pemakaman Kuno di Lobu Dao, dan lain sebagainya.
Berangkat dari banyaknya problem kebudayaan daerah, Sanggar SEP kemudian digagas sebagai sebuah wadah yang lebih besar agar mampu mencarikan alternatif untuk mengatasi persoalan-persoalan budaya. Budi Hutasuhut, Sunaryo JW, Dian MS Siregar, Riski Alamsyah Harahap (almarhum), Efry Nasaktion, Muhammad Yunus, Linni Hutapea, dan Shinta Nadya Lubis kemudian mengurus legalitas lembaga menjadi Sanggar Seni Sahata Etnik Padangsidimpuan (Sanggar SEP).
Dibantu notaris Edy Anwar Ritonga, S.H., M.Kn di Kota Padangsidimpuan, Akta Notaris Sanggar SEP dilegalisasi bernomor : 12 tertanggal
17 Januari 2025 . Setelah itu, notaris Edy Anwar
Ritonga, S.H., M.Kn. mendapatkan Surat Keputusan Menteri Hukum RI Nomor
AHU-0003844.AH.01.07.TAHUN 2025 tentang Pengesahan Pendirian Perkumpulan
Sanggar Seni Sahata Etnik Padangsidimpuan tertanggal 15 Mei 2025 dengan pendiri
Selain legalitas Sanggar SEP, notaris Edy Anwar Ritonga, S.H., M.Kn juga melegalisasi akta notaris Pusat Kajian dan Pengembangan Kebudayaan Daerah dengan Akta Pendirian Nomor: 18 tertanggal 23 Januari 2025 dengan pendiri H. Budi P. Hutasuhut, MM, Sepriadi, S.Pd, Linni Hutapea, S.H., M. Yunus Hutasuhut, ST.
COMMENTS