News Kreatif

Program Kami

Esai Kkreatif

alt gambar

Karya Kreatif

Sanggar SEP Gelar Kemah Budaya Angkola

Sanggar Seni SEP (Sahata Etnik Padangsidimpuan) menggelar Kemah Budaya Angkola 2025 di tengah-tengah masyarakat Lingkungan VI Kelurahan batunadua Jae, Kecamatan Batunadua, Kota Padangsidimpuan.

Penulis: Budi Hutasuhut | Editor: Nasaktion Efry

Para anak gadis di masa lalu tidak boleh sembarangan keluar rumah. Ruang gerak mereka dibatasi adat istiadat yang menjadi tata krama sosial, di mana seorang gadis harus menjaga kehormatan dengan tidak keluar rumah untuk keluyuran. 

Pada masa itu, leluhur budaya Batak di lingkungan Angkola menciptakan tradisi markusip, sebuah kebiasaan yang mengatur tata cara bergaul di kalangan anak muda. Tradisi ini memungkinkan seorang gadis yang tidak boleh sembarangan keluar dari rumah untuk menjaga kehormatannya, dapat berkomunikasi dengan pemuda impiannya dengan cara berbisik lewat celah-celah dinding rumah. 

Seorang pemuda yang naksir kepada seorang gadis, akan mendatangi dinding kamar tidur gadis itu pada malam hari. Ia kemudian akan memberitahu siapa dirinya, dan menyampaikan keinginannya untuk berkomunikasi dengan si gadis perihal isi hatinya.Jika si gadis mengenali pemuda itu dan memiliki perasaan yang sama, komunikasi di antara mereka akan berjalan dengan baik. Pada akhirnya, mereka akan sepakat untuk melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan.   

Tradisi markusip ini membatasi pertemuan antara gadis dengan pemuda. Pertemuan di antara mereka baru benar-benar terjadi bila sudah ada kesepakatan di antara mereka untuk melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan. Dengan pembatasan itu, tidak pernah ada kabar terjadi kehamilan di luar pernikahan. Namun, tradisi markusip sudah ditinggalkan.

Lima belas anak-anak dari berbagai sekolah dasar di Kota Padangsidimpuan yang tergabung dalam Sanggar Tari SEP menampilkan tari markusif, menampilkan gerak tari yang memperagakan bagaimana tradisi markusip dijalankan. Tari yang diciptakan  Nayla Anggraini Siregar ini, ditampilkan sebagai pembuka kegiatan Kemah Budaya Angkola 2025 yang ditaja Sanggar Seni SEP (Sahata Etnik Padangsidimpuan) di lapangan Lingkungan VI, Kelurahan Batunadua Jae, Kecamatan batunadua, kota padangsidimpuan, selama dua hari, 22--23 November 2025.  

"Tari markusif ini untuk mengingatkan generasi muda bahwa kebudayaan Angkola itu mewariskan nilai-nilai yang mengatur hubungan antara muda mudi," kata Nayla Anggraini Siregar. "Tari ini untuk mengembalikan ingatan generasi muda terhadap warisan leluhur budaya."

Selain menampilkan karya tari, kegiatan perkemahan yang diikuti seratus peserta dari Naposo Nauli Bulung (organisasi kepemudaan di tingkat kelurahan di Kota Padangsidimpuan), siswa SMA sederajat, dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang ada di Kota Padangsidimpuan ini, diisi dengan kegiatan Diskusi Budaya, Malam Api Unggun, Lomba Pantun Bahasa Batak, Lomba Dongeng Bahasa Batak, dan Lomba Margala atau Permainan Rakyat Tradisional.  

"Kegiatan Kemah Budaya Angkola 2025 ini difasilitasi fasilitas Fasilitas Pemajuan Kebudayaan yang diberikan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II Sumatra Utara. Ada 50 kegiatan, baik yang dilakukan komunitas maupun perorangan, yang mendapat fasilitas ini. Sanggar Seni SEP salah satunya," kata Linni Hutapea, ketua Sanggar Seni SEP. 

Linni Hutapea menambahkan, Sanggar SEP menggelar kegiatan Kemah Budaya Angkola untuk mengingatkan kembali kepada generasi muda bahwa nilai-nilai budaya warisan leluhur masyarakat Batak Angkola itu  layak untuk dimajukan dan dikembangkan. "Kebudayaan Batak Angkola bukan saja harus dilestarikan, tapi juga harus dikembangkan dalam kehidupan hari ini," katanya. 

Hal senada disampaikan Dian Maas Saputra, ketua Panitia Kemah Kebudayaan Angkola 2025 dalam kata sambutannya, bahwa kebudayaan Angkola jarang dipikirkan masyarakat pemiliknya sehingga dikhawatirkan keberadaannya akan dilupakan. "Kemah Kebudayaan Angkola ini mencoba mengembalikan ingatan dengan menggelar Diskusi Budaya, lomba berbahasa batak, dan lomba permainan rakyat," katanya. 

Menurut Dian, acara Kemah Kebudayaan Angkola digelar dalam bentuk perkemahan dan sengaja dibuat di tengah-tengah perkampungan masyarakat agar para orang tua memahami bahwa kegiatan perkemahan itu bukan kegiatan hura-hura. "Kegiatan perkemahan dapat menjadi ruang belajar bagi generasi muda," katanya. 

Kemah Kebudayaan Angkola 2025 menjadi kegiatan yang diikuti ratusan masyarakat Lingkungan VI kelurahan Batunadua Jae. Acara yang dibuka oleh Kepala Lingklungan VI Kelurahan Batunadua Jae, Hasrin Siregar, ini dihadiri Lurah Kelurahan Batunadua Jae, Rudy Iswandhi, S.Pd (Kepala Bidang Pembinaan Ketenagaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padng Sidimpuan), Purnadi, S.E. (anggota DPRD Kota Padangsidimpuan), dan wakil dari Kepolisian Sektor (Polsek) Batunadua. 

Dalam kata sambutannya, Rudy Iswandhi, S.Pd mengatakan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padangsidimpuan sangat mendukung upaya masyarakat untuk mengembangkan kebudayaan daerah dengan menggelar kegiatan-kegiatan seperti Kemah Budaya. Pasalnya, pemerintah daerah telah merumuskan pokok-pokok kebudayaan daerah (PPKD) yang akan dimajukan di Kota Padangsidimpuang. 

Hal serupa disampaikan Purnadi, S.E., ketua DPD Pujakesuma Padangsidimpuan yang juga anggota DPRD Kota Padangsidimpuan dari Fraksi Parti Golkar. Ia mengatakan, pembangunan kebudayaan di Kota Padangsidimpuan harus melibatkan masyarakat yang merupakan pemilik kebudayaan tersebut. "Kegiatan seperti Kemah Budaya ini harus lebih banyak dilakukan di Kota Padangsidimpuan," katanya.

Para undangan membuka kegiatan Kemah kebudayaan Angkola dengan menyalakan api unggun.  

Acara Kemah Kebudayaan Angkola diisi dengan Lomba Pantun Bahasa Batak, Lomba Marturi (Dongeng) Bahasa Batak, dan Lomba Margala Panjang sebuah permainan rakyat tradisional di lingkungan masyarakat Batak. 



Kreativitas Anak SD Dalam Tari Kreasi Pantas DIbanggakan

Kreativitas anak-anak SD di Kabupaten Tapanuli Selatan dalam menghasilkan tari kreasi, pantas dibanggakan. Mereka memadukan ragam gerak kreografi tari etnik dan ritme musik etnik untuk menceritakan tema .   

Penulis: Dian Maas Saputra | Editor: Nasaktion Efry

Siswa-siswa SD dalam balutan seragam serbabiru meloncat-loncat seperti pemain sirkus,  begitu energik di atas panggung seluas 4x8 meter. Sekali-sekali terdengar teriakan mereka, begitu riang layaknya anak-anak yang identik dengan dunia bermain, senyuman menghiasi bibir mereka. Mengikuti hentakan musik, yang dominan dengan suara drum, mereka menyajikan kreografi dengan gerak harmonis. 

Mereka salah satu peserta lomba tari kreasi tingkat SD yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tapanuli Selatan, 14 -- 16 November 2025. Acara ini rutin digelar setiap tahun dalam rangka peringatan HUT Kabupaten Tapanuli Selatan. 

Pada hari pertama perlombaan, ada lima kelompok tari SD. Panitia mengungkapkan, ada 13 kelompok tari SD yang mendaftar. Mereka berasal dari SD yang ada di Kabupaten Tapanuli Selatan.  Panitia membagi-bagi kelompok yang bertanding ke dalam lima sampai delapan penampilan per hari, karena tidak semua peserta bisa hadir dalam satu hari mengingat jarak tempuh yang jauh dari lokasi sekolah ke tempat acara digelar. 

Para peserta lomba mewakili SD yang ada di lima belas kecamatan di Kabupaten Tapanuli Selatan. Minimnya jumlah peserta ini disebabkan, tak semua SD yang ada di Kabupaten Tapsel memiliki kelompok tari. 

"Kalau dilihat dari kemampuan anak-anak dalam berkreativitas serta antusiasme mereka mengikuti lomba, mestinya peserta lomba tari kreasi ini bertambah banyak setiap tahun," kata Budi Hutasuhut, salah seorang juri lomba, "setiap SD yang ada di Kabupaten Tapsel seharusnya ikut perlombaan."

Selain lomba tari kreasi tingkat SD, digelar juga tari kreasi tingkat SMP. Sayangnya, tari kreasi tingkat SMA tidak ada karena jenjang pendidikan SMA bukan bagian dari tanggung jawab pemerintah daerah kabupaten.  

"Perlombaan-perlombaan yang merangsang kreativitas anak-anak didik seharusnya diperbanyak di Kabupaten Tapsel. Kreativitas anak-anak didik SD, SMP, dan SMA sederajat sangat banyak, tapi mereka tidak punya medium untuk mengekspresikan dirinya," katanya. 

Novela: Putri Priyayi


Pengantar: Putri Priyayi sebuah novel pendek yang bercerita tentang Roro Ayu Widuri Sri ningsih Prabuningtyas, putri angkat pasangan keluarga priyayi yang sudah lama tinggal di Jakarta. Ayu menyadari bahwa darahnya bukan darah priyayi, dan ia tertekan hidup dalam kemewahan yang penuh aturan. Ia memutuskan untuk bebas, seperti Imelda, kawannya, lalu ia kabur dari rumah dan akhirnya hidup mandiri. Ia sukses dan bekerja di Dirjen Pajak, mendapat tanggung jawab sebagai petugas penilai potensi pajak, yang melakukan survei keliling Indonesia. Ia bertemu dengan Budi, satu-satunya laki-laki yang ia cintai selama kuliah, tetapi Budi jatuh cinta kepada Imelda. Kisah percintaan Budi, Ayu, dan Imelda mempertaruhkan persahabatan ketiganya, di mana tidak seorang pun di antara mereka yang akan hidup bersama. Sebagai petugas pajak, Ayu tidak sepemikiran dengan Imelda yang bekerja sebagai direktur pada salah satu grup perusahaan yang menipu pajak, dan Budi merupakan aktivis yang melakukan protes kepada perusahaan di mana Imelda bekerja. 

BAB I. DI TEPI SUNGAI BATANG GADIS 

Kau tidak akan pernah melupakan nama Roro Ayu Widuri Sri Ningsih Prabuningtyas. Itulah satu-satunya nama panjang yang pernah kau tahu disematkan kepada seseorang, dan ia adalah perempuan bertubuh mungil yang berdiri di hadapanmu. “Apakah aku banyak berubah?” katanya. 

Kau harus mengakui kalau ia banyak berubah setelah lima tahun. Saat pertama kali kau mengenalnya di kampus, rambutnya dipotong pendek, di atas bahu hingga tengkuknya terlihat,  dan gaya rambut itu membuatnya terlihat lebih mirip remaja belasan tahun.  Kau baru menyadari kekeliruanmu setelah ia masuk ke dalam kelas dan ikut berkualiah.

Ia ke kampus selalu diantar neneknya –- tapi belakangan kau tahu perempuan tua itu ternyata ibunya --- yang selalu mengenakan kebaya, berkain batik motif parang garudo dan menyanggul rambut berubannya. Ibunya selalu akan menyempatkan menjulurkan kepalanya dari jendela mobil, entah untuk sekadar memberi tahu kepada siapa saja bahwa ia selalu mengawasi anak gadisnya, dan setelah itu mobil sedan klasik berbadan lebar dan berwarna putih metalik yang dikendarai sopirnya akan memutari kawasan kampus sebelum akhirnya keluar dari gerbang..

Sementara ia, gadis itu -– kau selalu memanggilnya Ayu meskipun orang lain akan memanggilnya Sri – buru-buru akan berlari ke kamar kecil dan dalam hitungan menit akan muncul dengan penampilan berbeda; mengenakan jins ketat dan t-shirt yang membuat tubuh mungilnya menjadi lebih mungil. Seperti biasa, selepas dari kamar kecil ia akan menghampiri Imelda, dan membaur di antara rombongan mahasiswa lainnya. Kehadirannya akan memberi warna berbeda karena kemungilan tubuhnya sehingga terkesan Imelda seperti seorang kakak yang berangkat ke kampus sambil menjaga adik kecilnya.

Sudah lima tahun sejak terakhir kali bertemu Ayu, saat  masih sama-sama berkualiah di sebuah perguruan tinggi swasta di bilangan Jakarta Selatan. Selama itu pula kau tak pernah mengingatnya, dan pasti kau tidak akan pernah mengingatnya seandainya ia tidak pernah menghubungi pada telepon selulermu.  

“Seperempat jam lagi aku akan tiba di rumahmu,” katanya, setelah menanyakan dan mengatakan ini dan itu untuk mengembalikan ingatanmu tentang dirinya.

Kau ingat betul, ia seorang yang pendiam, hanya bicara seperlunya. Ia tidak suka kegiatan-kegiatan kampus, baik intrakampus maupun ekstrakampus. Padahal kegiatan-kegiatan seperti itu penting untuk mengekspresikan jiwa muda yang gelisah dan selalu ingin punya eksistensi.  Ia beralasan tidak bisa mengikuti kegiatan-kegiatan itu karena dilarang oleh orang tuanya, meskipun ia sangat mendambakan bisa melakukan apa saja seperti mahasiswa lainnya. 

Ia selalu memberi contoh ingin seperti dirimu, mahasiswa yang super sibuk dan terlibat dalam banyak kegiatan di luar urusan perkuliahan, sehingga siapa saja di dalam kampus maupun di luar kampus akan dengan mudah mengingatmu sebagai aktivis mahasiswa. Ia acap berkhayal suatu saat akan melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukannya saat masih mahasiswa, termasuk naik turun sejumlah gunung sebagaimana kau sering melakukannya bersama kelompok pencinta alam yang sudah berkali-kali mengukur ketinggian nyaris semua gunung di negeri ini. 

Tapi ia tidak pernah naik gunung. Ia juga tidak pernah mau membuka hatinya untuk urusan perasaan. Kau tidak pernah melihatnya dekat dengan laki-laki, konon lagi menjadi begitu akrab.  Hidupnya cenderung kering, hanya berkutat dengan buku-buku kuliah. Sekali-sekali kau melihatnya asyik membaca novel. 

Suatu hari kau bertanya soal itu kepadanya, dan ia meminta dengan sangat agar kau tak mempertanyakan perkara yang sangat tabu dalam keluarganya. Ia beralasan, orang tuanya sangat ketat urusan pergaulan muda-mudi dan mewanti-wantinya sejak lama agar tidak main-main dengan urusan hati.  Belakangan kau tahu dari Imelda kalau ia sudah dijodohkan oleh orang tuanya dengan salah seorang kerabat jauh yang menjadi kolega bisnis ayahnya.

Sebetulnya kau tak begitu akrab dengan dirinya. Tapi kau akrab dengan Imelda, kawan akrab yang belakangan tinggal satu kontrakan dengan dirinya. Imelda berbeda  seratus derajat dengan dia. Imelda gadis yang mandiri, sedikit maskulin. Kau suka tife gadis maskulin, Selain tak menyukai berdandan yang banyak memakan waktu dan tidak terlalu tergantung kepada laki-laki, Imelda memiliki ketertarikan yang sama denganmu soal mendaki gunung dan mencintai keindahan alam raya.

Hubunganmu dengan Imelda memaksamu harus  dekat  dengan Ayu.  Tak terlalu dekat, memang, hanya sekali-sekali kau mengajaknya bicara untuk menanyakan keberadaan Imelda. Dan, kesanmu, Ayu tidak enak diajak bicara.  Kaku. Kosa katamu sering habis jika sedang bicara dengan dirinya.

Tapi kenapa, setelah lima tahun berlalu, tiba-tiba ia menghubungi ke telepon selulermu, mengatakan kalau ia dan dua kawannya sedang dalam perjalanan menuju ke rumahmu. Seperempat jam janjinya. Dan, percakapan di telepon genggam itu belum seperempat jam berlalu ketika sebuah mobil tiba-tiba berhenti di halaman rumahmu. Saat seseorang turun dari mobil, lalu melangkah menghampirimu, kau mengikuti langkahnya sambil berpikir bahwa perempuan itu bukan Ayu. 

Perempuan itu bertubuh tinggi, otot-otot pinggulnya berisi. Ia mengenakan jins hitam ketat, rompi berbahan kanvas warna biru tua, dan memakai sepatu bot yang menutupi bentuk betisnya. Ia mengembangkan senyuman, berdiri sebentar di hadapanmu, dan tampak puas karena kau gagal mengenalinya. 

“Kau masih ingat aku?!” sapanya.

Ia membiarkanmu mengingat dirinya sambil mengedar tatapan ke seluruh sudut di halaman rumahmu, ke pot-pot bunga anggrek yang kau tata di sebelah selatan, ke rumpun melati air yang mekar di tengah-tengah kolam kecil, dan ke patung-patung yang kau letakkan di antara pot-pot bonsai.  Kemudian ia melirik ke dalam rumahmu melalui pintu yang mengaga. “Mana Imelda?” tanyanya.

Imelda!? Kau telah melupakan gadis maskulin itu sejak lama, sejak lima tahun lalu. Selesai kuliah,  hubunganmu dengan Imelda juga selesai. Kau tak ingat lagi penyebabnya, tapi kau tak akan melupakan bagaimana Imelda meninggalkanmu begitu saja.  “Tidak,” katamu. “Imelda tidak pernah ada di sini.”

Ia tergelak. “Imelda!?” 

“Ia masa lalu.”

Ia tersenyum. “Aku sudah menduga sejak awal hubungan Kalian tidak akan berlanjut.” Ia mendekatimu dan menjulurkan tangan. Sikapnya begitu cair. “Apa kabarmu?”

Kau menatapnya. “Kau betul Ayu….!?” Kau masih tak percaya. Ia banyak berubah.  Tidak ada lagi kesan gadis yang pendiam. Sebaliknya, ia sedikit maskulin,  “Kau banyak berubah.”  Tak bisa  tidak, kalimat itu kau sampaikan.

“Bagaimana kau bisa bilang begitu?” Ia menatapmu. “Kau tak pernah memperhatikanku. Seingatku, hanya aku yang sering memperhatikanmu.”

Kau tertawa. Kau ingin melanjutkan kenangan tentang dirinya, tapi dua laki-laki yang belakangan turun dari mobil, tiba-tiba mendekat. Ia kemudian memperkenalkan kedua laki-laki itu. Salah seorang bertubuh kurus, sedikit lebih tinggi darimu, mengaku bernama Husein Sasmita. Satunya lagi bertubuh pendek, berkulit hitam manis, memperkenalkan dirinya sebagai Lazuardi Sarane. Ia memperkenalkan kedua laki-laki itu sebagai rekan kerjanya, dan entah kenapa kau senang mendengar penjelasannya.

Kau mengajak mereka masuk. Ia memuji suasana asri di halaman rumahmu. Begitu berada di dalam rumah, ia juga memuji penataan ruang tamu yang apik. “Kau masih suka fotografi?” tanyanya.

*

IA dan dua temannya bermaksud memasuki kawasan Taman Nasional Batang Gadis untuk urusan pekerjaan, tapi mereka tidak mengenal medan di dalam kawasan hutan itu. Ia berharap agar kau bersedia menjadi pemandunya, karena ia tahu persis kalau kau sering keluar masuk kawasan itu. Tapi kau tidak langsung menyetujui, malah bertanya untuk apa, karena tidak ingin membawa orang ke dalam kawasan dan kemudian orang itu akan merusak lingkungan hidup yang asri di sana. 

Ia tertawa renyah dan mengaku sudah menduga bahwa kau tidak akan mudah diajak memasuki hutan karena kau sangat hati-hati. Dan ia tahu penyebabnya, maka ia menjelaskan bahwa ia bekerja di Dirjen Pajak dengan tanggung jawab untuk urusan menyurvei objek pajak, terutama milik para investor perkebunan yang bergerak di sector agro bisnis budidaya kepala sawit. Katanya, para wajib pajak dari kalangan pelaku agrobisnis sering menipu total luas areal budidaya yang mereka kelola untuk mengakali jumlah pajak yang wajib dibayar, padahal mereka acap menambah total luas tanam melebihi total hak guna usaha yang dikantongi selama ini. Tapi pemerintah melalui Dirjen Pajak tidak bisa diakali lagi, dan mengirimkan petugas untuk melakukan survei pengukuran luas lahan yang dikelola para wajib pajak itu lewat bantuan teknologi satelit yang memungkinkan mengumpulkan data luas lahan secara detail berikut gambarnya. 

“Kebetulan kami ditugaskan ke derah ini untuk menyurvei luas lahan sejumlah investor. Total pajak mereka terlalu rendah bila dibandingkan total produksi. Kami curiga investor-investor itu mengakali pajak dengan melaporkan luas areal garapan yang tidak sesuai kenyataan,” katanya. 

Kau mengangguk karena memahami apa yang ia maksud dan sebetulnya kau sudah lama mendengar ada pekerjaan seperti itu. Tapi kau tetap memerlukan informasi tambahan, mengajukan beberapa pertanyaan tentang bagaimana mereka akan melakukan pekerjaan menyurvei itu. 

“Itu alasan saya menghubungimu.” Ia tersenyum. “Tidak sulit mengumpulkan informasi tentang seorang aktivis lingkungan hidup seperti dirimu. Aku dengar kau sering keluar masuk kawasan Taman Nasional Batang Gadis. Ada banyak investor yang mendapat hak guna usaha di lahan yang berbatasan dengan Taman Nasional Batang Gadis. Lokasi penelitian kami di sana. Aku berharap kau bersedia mendampingi kami memasuki kawasan itu.”

“Aku!” Kau menatapnya. “Kau yakin aku tidak akan menolak?”

Ia tergelak. “Aku tahu obsesimu tentang lingkungan yang asri. Aku dengar kau sering memprotes kebijakan pemerintah memberikan hak guna usaha kepada investor untuk mengembangkan agrobisnis. Bahkan, beberapa bulan lalu, aku dengar kau menggugat ulah investor yang merambah kawasan Taman Nasional Batang Gadis.”

“Kau tahu semua itu.” Kau ingat aksi protes yang kau layangkan ke investor  yang membudidayakan sawit itu, tapi protesmu dijawab pihak investor dengan mengajukan gugatan hukum ke kepolisian bahwa kau telah mencemarkan nama baik institusi bisnis mereka. Beberapa kali kau harus bolak-balik ke kantor polisi untuk menjawab beberapa pertanyaan seputar perbuatan pencemaran nama baik itu. Waktumu betul-betul tersita dan konsentrasimu pecah untuk mengatasi masalah gugatan itu, meskipun kau menduga semua ini dilakukan investor untuk menguras energimu agar tidak lagi focus pada persoalan yang kau persoalkan. 

“Usahamu itu yang telah menginspirasi kami.” Ia menyemangatimu. “Kami curiga investor yang kau gugat itu mengakali luas areal budidaya untuk menipu total pajak yang harus dibayarkan.”

“Apa yang bisa aku bantu?”

*

Ia benar-benar berubah seratus derajat. Ia lebih tomboi dari Imelda. Ia sangat mandiri. Ia tak suka kalau kau mengkhawatirkannya. 

Ketika memasuki kanopi Taman Nasional Batang Gadis, kau perhatikan kalau ia berusaha menunjukkan bahwa dirinya mampu menempuh medan yang sulit. Kau sengaja memilih merambah jalur baru  karena ia menghendaki agar survei yang dilakukan tidak dipergoki siapa pun, terutama pihak investor. Tapi kau tahu, ia belum terlalu berpengalaman memasuki hutan meskipun ia mengaku sudah biasa melakukan pekerjaannya. 

“Medan yang lebih parah dari ini pun sudah pernah aku masuki. Kau tahu kan medan di Irianjaya.” 

Ia bercerita pengalaman memasuki kawasan hutan di Irian Jaya, Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatra. Belum lama mereka pulang dari Lampung, melakukan survey di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, dan menemukan fakta tentang kebohongan sejumlah investor. Ada perusahaan agrobisnis budidaya sawit yang menggarap lahan di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan hingga 15.000 hektare,  padahal hak guna usaha yang mereka kantongi hanya untuk 10.000 hektare di luar kawasan. “Kami sempat bertemu harimau di daerah Suwoh ,” katanya.

Kau menduga ia menceritakan semua karena merasa kalau kau mengkhawatirkan.  Tapi ceritanya tak lantas mengurangi rasa khawatirmu,  karena cara ia melewati rintangan tidak seluwes seperti seseorang yang terbiasa keluar-masuk hutan. Sekali-sekali kau melihatnya kesusahan dan kau terpaksa menunggu saat ia harus membebaskan diri dari belitan rotan yang berduri. 

Husein Sasmita dan Lazuardi Sarane focus pada peralatan yang mereka bawa.  Husein Sasmita memegang sebuah catatan, berkali-kali ia bicara dengan Lazuardi Sarane, berkali-kali ia menuliskan sesuatu pada buku catatannya. Sekali-sekali  keduanya berhenti,  berbicara tentang data yang tertera pada peralatan. Mereka nyaris tidak memperhatikan siapa pun. Kaulah yang memperhatikan Ayu, mengajaknya bicara tentang apa saja. Kau berharap suasana hatinya akan lebih enak, sehingga perjalanan menempuh medan yang sulit itu tidak membuat suasana hatinya kalut. 

“Kau sudah menikah?” Tiba-tiba kau ajukan pertanyaan yang sebetulnya ingin kau ajukan sejak pertama kali bertemu. “Berapa anakmu?”

Ia berhenti melangkah mendengar pertanyaanmu. “Itu bukan pertanyaan yang sopan?”

“Kenapa tidak!?” Kau tersenyum. “Aku akan mengajukan pertanyaan apa saja yang membuat kita bisa menjadi sebuah tim kerja. Di dalam hutan ini, kita harus menyatu antara satu dengan lainnya.”

“Tetap saja pertanyaan seperti itu tidak sopan diajukan kepada seorang gadis yang seharusnya sudah menikah.”

“Jadi… Kau belum menikah.”

“Menurutmu.”

*

Ketika hari meremang, kau mengajak mereka mendirikan tenda di pinggir Sungai Batang Gadis. Ia membawa satu tenda, dua rekannya membawa satu tenda, dan kau membawa satu tenda. Tiga tenda dipasang. Selesai tugas itu, kau mengumpulkan kayu bakar untuk persiapan menghadapi malam. 

Ketika gelap merayap di angkasa, api unggun sudah menyala. Sambil makan malam, kau mengajak mereka bercakap-cakap. Tapi Husein Sasmita dan Lazuardi Sarane mohon diri untuk istirahat lebih dahulu. Keduanya kelelahan dan ingin mempersiapkan diri agar mampu menghadapi perjalan besok pagi. Kau menyarankan agar ia juga istirahat supaya kondisinya fit. Meskipun ia tampak kelelahan, ia berusaha memberi kesan bahwa dirinya belum mau istirahat. Kau meyakinkannya bahwa medan yang akan ditempuh lebih berat lagi. “Istirahatlah! Besok pagi perjalanan kita masih panjang dan melelahkan,” katamu.

Ia tak menolak karena kondisinya memang terlihat kepayahan. Ia berjalan gontai menuju tendanya. Setelah ia tak terlihat lagi, kau merapikan api unggun. Setelah itu kau masuk tenda. Tak kau sadari, sebelum tertidur, pikiranmu dikuasai  bayangannya. Perubahannya yang begitu drastis, harus kau akui, membuat hatimu bergetar setiap kali melihatnya. Semua yang ada pada dirinya, sama seperti gadis yang pernah kau bayangkan selama ini. Itu sebabnya, kau tetap memilih hidup sendiri hingga kini.

Kau membayangkan betapa hangat tubuhnya. Bayangan itu membuat kau tertidur sambil tersenyum. 

Entah berapa lama kau tertidur, tiba-tiba kau terbangun dan melihat ada bayangan manusia berkelebat di luar. Kau curiga ada orang yang sengaja datang, dan kau keluar dari tenda tidak melalui pintu beresluiting itu. Kau mengendap di balik tenda, bergerak perlahan mendekati bayangan itu.  Kau lihat sosok itu, berusaha hendak masuk ke tendamu. Kau menerkamnya, dan sama-sama terjatuh. Tapi….

“Kenapa kau di sini?” Kau kaget melihat Ayu ada dalam pelukanmu. 

Ia tidak menjawab, berusaha bangkit. Kau menyusul bangkit. Ia menatapmu begitu tajam.

“Apa yang kau lakukan di luar tenda ini?” tanyamu.

Sebuah tamparan mendarat di wajahmu. “Kau kurang hajar. Entah, mungkin, munafik.”

“Apa maksudmu?”

“Dari tadi aku tunggu kau di dalam tendaku, tapi kau tidak pernah muncul. Imelda benar, kau memang piawai mendaki semua puncak gunung, tapi kau tidak punya keberanian mendaki gunung yang aku punya.”

“Kau….”

“Aku menunggu saat seperti ini sejak lama.” Ia menatap tajam ke bola matamu. Dadamu bergetar sangat hebat. “Kau pikir untuk apa aku berubah drastis seperti ini. Semua karena ucapanmu dulu, karena kau hanya menyukai perempuan yang maskulin.”

“Kau…” Mendadak kau memeluknya. Kalian bergulingan hingga ke pinggir Sungai Batang Gadis. 

Lake Toba Writers Festival Kembali Digelar untuk Kali Ketiga

Penulis: Dian Maas Saputra | Editor: Efry Nasaktion

Budi Hutasuhut (kiri), penyair asal Padangsidimpuan, Dorothe Rosa Herliany, penyair asal Magelang, Boru Situmorang, kemenakan Sitor Situmorang, dan Amol Titus, inisiator Danau Toba Writer Festival dalam acara Danau Toba Writer Festival  tahun 2024.

Lake Toba Writers Festival (Festival Penulis Danau Toba/FPDT) kembali digelar untuk ketiga kalinya, 10-13 September 2025.Festival yang disajikan dalam tiga bahasa: Batak, Indonesia, dan Inggris ini mempertemukan para penulis, pengarang, dan penyair dari berbagai belahan dunia. 

Lake Toba Writers Festival (Festival Penulis Danau Toba) digagas oleh Amol Titus, penulis, pengarang, penyair yang juga CEO Indonesia Wise -- sebuah perusahaan yang bergerak di bidang konsultan strategis. Penulis sejumlah buku sastra ini, kelahiran Jaipur, India, pada tahun 1967 itu, menyampaikan gagasannya kepada Saut Poltak Tambunan, seorang novelis yang belakangan mengembangkan sastra daerah berbahasa Batak. 

Saut Poltak Tambunan menyambut gagasan itu sebagai ide luar biasa untuk mengangkat sastra berbahasa Batak, sesuatu yang sudah lama didambakannya. 

"Gagasan mempertemukan pengarang dengan pembaca di Danau Toba ini memiliki banyak manfaat bagi pengembangan dunia kepenulisan maupun pengembangan bahasa Batak," katanya. 

Thompson Hs, budayawan dan dramawan di Provinsi Sumatra Utara yang merevitalisasi Opera Batak sebagai warisan karya budaya leluhur masyarakat Batak, juga diajak dalam kepanitian Lake Toba Writers Festival. 

"Saya dan Pak Saut Poltak Tambunan bertemu Pak Amol Titus untuk mengkristalisasi sebuah event bertajuk Lake Toba Writers Festival," kata Thompson Hs. 

Berdasarkan rilis yang diterima Sinar Tabagsel dari penyelenggara Danau Toba Writers Festival, disebutkan bahwa sejak tahun 2023, puluhan penulis dari dalam negeri dan luar negeri telah terlibat dalam Lake Toba Writers Festival. 

Kegiatan ini menjadi salah satu festival sastra terkemuka di Indonesia karena berbagai karakteristik uniknya karena tidak hanya membicarakan festival penulis, tapi memberikan dukungan terhadap pelestarian warisan budaya seperti bahasa Batak lewat karya sastra berbahasa Batak dan penampilan Opera Batak. 

Selain itu, selama festival berlangsung, penyelenggara berkomitmen terhadap konservasi lingkungan karena tempat festival ini berdekatan dengan pantai Danau Toba. Maka, Festival Penulis Danau Toba juga mempromosikan pariwisata berkelanjutan di Danau Toba yang telah ditetapkan sebagai destinasi super prioritas oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. 

Festival ini mengadopsi praktik-praktik berkelanjutan seperti penanaman spesies pohon endemik, konservasi air, meminimalisir sampah plastik, menggunakan produk lokal, menyediakan kesempatan bagi masyarakat lokal dan UMKM, dan CSR dalam bentuk sumbangan buku untuk perpustakaan lokal, pengembangan kapasitas linguistik di sekolah-sekolah dan dorongan bagi penulis muda dari Sumatera Utara. 

Dalam Danau Toba Writers Festival 2025 yang akan diselenggarakan pada 10-13 September 2025, dibuka di Medan pada 10 September 2025 dengan sesi sastra dan pertunjukan Opera Batak. Para penulis kemudian akan melakukan perjalanan ke Pulau Samosir di pusat Danau Toba dan berinteraksi dengan para pembaca, guru, seniman kreatif, dan pecinta budaya.










Membaca Ulang "Penakluk Ujung Dunia" Karya Bokor Hutasuhut

Dian Maas Saputra

Oleh Dian Maas Saputra

Selesai membaca Penakluk Ujung Dunia, novel adikarya Bokor Hutasuhut, cetakan terbaru oleh Penerbit Lingkup tahun 2024, saya terpikat pada sosok Ronggur, anak muda yang bervisi maju dan meninggalkan cara berpikir tradisional yang mengikat seluruh masyatrakat di lingkungannya. Dan saya mengidentifikasi diri sebagai Ronggur – begitulah cara saya memahami setiap karya sastra yang saya baca. Lagi pula, Bokor Hutasuhut mengunakan teknik penceritaan orang ketiga yang mahatahu, dan teknik ini membuat pembaca seperti saya boleh mengidentifikasi diri di setiap tokoh yang diceritakan, atau memilih lebih tertarik pada satu tokoh yang diceritakan. 

Saya mengidentifikasi diri sebagai Ronggur, karena ia merupakan tokoh utama dalam novel ini. Ia memiliki watak keras, cenderung menentang, dan itu watak yang khas pada diri seorang anak muda yang sedang memasuki masa pertumbuhan. Secara psikologis, perkembangan emosional anak muda belum stabil. Tapi berbeda dengan Ronggur, emosionalnya stabil, karena semua keputusan yang dibuatnya, dibuat dengan penuh pertimbangan. Mungkin karena situasi dirinya, hidup tanpa keberadaan seorang ayah, sehingga ia besar dengan tuntutan keadaan harus penuh tanggung jawab dalam melakukan apa saja layaknya seorang laki-laki dalam keluarga Batak. 

Ronggur adalah orang Batak. Namanya, memakai kata “Ronggur” dari bahasa Batak, berarti “gledek” atau “guntur” dalam bahasa Indonesia. Pilihan nama itu tidak dilakukan bokor Hutasuhut tanpa sebab, melainkan untuk memberi arahan kepada pembaca bahwa karakter Ronggur mirip seperti “guntur” atau “gledek”.  “Guntur” atau “gledek” sebagai fenomena alam, kedatangannya selalu mengagetkan. Tampaknya, Bokor Hutasuhut meniatkan, sosok Ronggur adalah sosok yang keputusan-keputusannya dalam hidup akan menggemparkan atau mengagetkan. Kenyataan itulah yang saya temukan dalam pengisahan Bokor Hutasuhut tentang Ronggur. Anak muda ini, acap mengambil keputusan yang mengagetkan. 

Di awal novel, ketika semua warga wajib berkumpul di tanah lapang karena raja akan memberi pengarahan perihal tewasnya warga di tangan penduduk kampung tetangga, Ronggur menjadi satu-satunya orang yang datang belakangan. Ini menunjukkan, Ronggur bukan anak muda yang taklit dan tunduk patuh pada raja, sebagaimana sebagian besar warga langsung bergerak begitu mendengar bunyi gong pemanggil bergema. Bukan berarti Ronggur membangkang pada raja, tetapi karena cara ia berpikir memang berbeda dibandingkan rakyat kebanyakan.

Ronggur sosok yang unik karena cara berpikirnya berseberangan dengan orang banyak. Ia tidak mengkhawatirkan cara berpikirnya yang berseberangan, dan ia tidak merasa takut berseberangan dengan siapa pun. Kelak, watak Ronggur yang selalu berbeda itu, menjadi ciri khasnya. Ia hidup dengan cara berpikir berbeda, dan ia akan menikmati hasil dari sesuatu yang menurut orang lain mustahil bisa dilakukan. 

Tiba-tiba saya mencoba memikirakan apa yang ada dalam pikiran Bokor Hutasuhut ketika ia menciptakan sosok Ronggur? 

Novel Penakluk Ujung Dunia konon ditulis Bokor Hutasuhut ketika ia masih tinggal di Medan, Sumatra Utara, pada dekade 1950-an. Saat itu, Bokor Hutasuhut telah memiliki nama besar sebagai penulis cerpen, yang karya-karyanya disiarkan di sejumlah media mainstream di Medan dan Jakarta. Nama besar itu membawanya ke Jakarta, bertemu HB Jassin, dan akhirnya menjadi bagian dari dinamika perkembangan sastra di Jakarta. 

Ketika ia mulai hidup sebagai warga Jakarta, yang saat itu Jakarta sedang dalam suasana tegang akibat realitas politik pasca kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 meninggalkan banyak persoalan terkait partai politik mana yang harus menjadi penguasa, ia memutuskan menikahi seorang gadis berasal dari Sipirok. Majalah horison, tempat Bokor Hutasuhut sering menulis karya cerpen, mengucapkan selamat atas pernikahannya. 

Pada masa demokrasi terpimpin, sosok anak-anak muda bermunculan dengan kemampuan intelektual yang berseberangan dengan tokoh-tokoh tua. Mereka muncul sebagai representasi partai-partai politik baru, membawa semangat perubahan yang luar biasa, namun kehadiran mereka banyak mendapat penolakan. Dekade 1950-an, banyak pemikiran Barat yang dikutif para politisi, lengkap dengan philosofinya, yang kemudian pemikiran-pemikiran itu doiujicoba diaplikasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Gagasan dan pemikiran asing berselewiran dalam dunia ilmu pengetahuan, yang diusung oleh intelektual Wiratmo Sukito dari kalangan sastra, Sjahrir dan  Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap dari kalangan politisi,  Mohammad Hatta, Ir. Soekarno,  dan lain sebagainya. Polemik gagasan dan pemikiran sering terjadi, di mana setiap intelektual mengklaim bahwa gagasan dan pemikirannya yang paling relevan untuk bangsa Indonesia yang baru merdeka. 

Di sisi lain, kekuasaan politik menjadi panggung yang mesti diperebutkan untuk menguatkan gagasan dan pemikiran yang diklaim. Para elite berdebat tentang hidup mandiri tanpa campur tangan asing apalagi kolonialisme, ada yang tetap meyakini bahwa negara asing bisa dimanfaatkan untuk mempermudah urusan bangsa dan negara. Semua perdebatan itu akhirnya bermuara pada pertentangan idiologis, yang kemudian dipengaruhi oleh situasi dunia internasional yang memiliki kecendrungan untuk memiliki ‘musuh bersama” bernama idiologi komunisme. 

Para intelektual Indonesia kemudian terpolarisasi ke dalam dua pandangan ideologis. Sebagaimana realitas dunia internasional yang “anti-komunis’ akibat perang dingin Amerika Serikat yang demokratis dan Rusia yang beridiologi komunis, di mana Amerika Serikat berhasil membangun konstruksi besar sekutu yang menjamin perdamaian dunia dengan Rusia sebagai musuh bersama, berimbas terhadap realitas politik dalam negeri. Sebagian besar intelektual mendukung kampanye perdamaian dunia a la Amerika Serikat sembari mengutuk komunisme. 

Orang-orang yang dekat dengan Rusia, satu p[er satu disingkirkan dengan cap sebagai komunis yang akan memberontak. Peristiwa Madiun meledak, para elite negeri yang dianggap punya gagasan dan pemikiran berseberangan, dikait-kaitkan dengan peristiwa itu dan dicap sebagai pengkhianat. Tidak sedikit elite yang disingkirkan dengan status sebagai pengkhianat bangsa. 

Bokor Hutasuhut hidup dalam situasi politik demopkrasi terpimpin yang penuh ketegangan. Semua berawl dari cara berpikir berbeda, dan itulah barangkali yang mendorong Bokor Hutasuhut menghidupkan Ronggur sebagai sosok pemuda yang punya cara berpikir berbeda dengan orang-orang di sekitarnya. Dan, Ronggur, anak muda yang berpikir berbeda itu, pada akhirnya dibuang dari segala ikatan sosial karena keputusannya melawan apa yang dilarang (tabu0 dalam kehidupan tradisional masyarakat. 

Ronggur memilih meninggalkan perkampungannya, masyarakatnya, dan lepas dari segala ikatan sosiologinya. Ia mengendarai solu, melariung solu itu ke daerah terlarang karena ia yakin di ujung dunia itu ada kehidupan yang lebih layak untuk tempat hidup. Dan, ternyata, kekeraskepalaan Ronggur, yang lebih disebabkan karena keyakinannya yang kuat setelah belajar dari melihat fenomena alam, berhasil menaklukkan ujung dunia. Ia menemukan tanah baru, lahan baru, daerah baru yang cocok untuk kehidupan baru. 

Novel Penakluk Ujung Dunia berasal dari foklor yang berkembang di lingkungan masyarakat di sekitar Danau Toba, dan Bokor Hutasuhut mengemasnya sebagai cerita yang menawarkan nilai-nilai moral manusia lewat sosok-sosok toikohnya. Ronggur adalah potret anak muda Batak yang berpikir maju, memiliki kepekaan sosial yang tinggi, perduli pada penderitaan orang lain, dan bertanggung jawab atas orang yang dipimpinnya. Bokor Hutasuhut seakan-akan menegaskan, karekater oprang Batak yang sesungguhnya melekat pada sosok Ronggur, yakni orang yang hidup dengan rasa holong luar biasa kepada banyak hal. 

Holong berasal dari bahasa Batak yang artinya “kasih sayang”. Namun, dalam pemahaman kultur Batak, kata “holong” menjadi semacam semangat kultur yang sering direalisasikan dengan semangat altruisme sosial dengan ungkapan “holong mangalap holong” yang artinya “perbuatan kebaikan selalu akan mendapat kebaikan”. 

Holong atau bisa juga dimaknai “rasa memiliki” atau “rasa sepenanggungan” sangat kental dalam diri Ronggur. Ia tidak memperlakukan budak sebagai budak, tetapi sebagai manusia dan memutuskan menikahinya. Ia tak menganggap musuh yang diserangnya sebagai musuh, tetapi sebagai kelompok yang terpaksa harus diserangnya karena pengetahuan tradisional yang buruik dan membenarkan adanya perang bius, dan ia menyesali telah menghancurkan komunitas masyarakat marga lain. Rasa penyesalannya ditawarkan dengan menikahi atau memerdekakan budaknya. 

Bokor Hutasuhut sukses dengan menampilkan sosok Ronggur yang merupakan representasi orang Batak. Namun, adakah orang-orang dari generasi muda hari ini yang memahami watak dan karakter Ronggur sebagai representasi orang Batak? 

Banyak pembaca novel Penakluk Ujung Dunia yang menilai Bokor Hutasuhut sebagai sastrawan yang menegaskan bahwa masalah tanah sangat penting bagi orang Batak. Tapi, sesungguhnya, tanah bagi orang Batak bukan hal yang utama. Yang terpenting bagi orang Batak adalah keutuhan bersama, kebersamaan yang diikat oleh holong, dan jika situasi itu telah terwujud, apapun dapat diraih. Rasa holong yang dimiliki Ronggur, membuatnya bisa meraih apa saja, termnasuk tanah yang akan menjadi daerah baru bagi masyarakat sosialnya. 

Tulisan ini disampaikan untuk mengikuti Festival Penulis Balige 2025.

Minim Minat Pelajar di Kota Padangsidimpuan Terhadap Literasi

Direktur Lembaga Pengembangan dan Kajian Kebudayaan Daerah (LPK Budaya), Efry Nasaktion, memberikan pelatihan Menulis Puisi dalam Coaching Clinic Menulis di SMP IT Darul Hasan Kota Padangsidimpuan. 

Penulis: Dian Maas Saputra

Minat para pelajar SD, SMP, SMA, dan sederajat di Kota Padangsidimpuan terhadap literasi sangat bermasalah. Mereka bukan saja tak membaca, tetapi juga kesulitan untuk memahami bahan bacaan.

Direktur Lembaga Pengembangan dan Kajian Kebudayaan Daerah (LPK Budaya),  Efry Nasaktion, mengungkapkan hal itu sebagai penyebab minimnya generasi muda di Kota Padangsidimpuan yang memiliki kemampuan kreatif untuk berkembang. 

"Kita jarang mendengar anak-anak didik berprestasi di bidang ilmu pengetahuan, kreativitas berkarya, atau hal-hal yang berkaitan dengan pengembangan kapasitas dirinya," katanya saat ditemui di  lokasi Coaching Clinic Menulis yang digelar Sekolah Menulis  Padangsidimpuan di SMP Swasta Islam Terpadu Darul Hasan Kota Padangsidimpuan, Rabu, 20 Agustus 2025.

Di dalam berbagai perlombaan yang digelar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, terutama oleh Pusat Prestasi Nasional, Efry mengatakan jarang terdengar siswa dari Kota Padangsidimpuan yang berhasil menjadi pemenang. 

Efry mencontohkan dalam Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) sebagai ajang talenta di bidang seni yang diselenggarakan secara berjenjang, mulai dari tingkat daerah hingga nasional, diikuti oleh siswa SD, SMP, SMA, dan SLB.  

Belum lagi Lomba Kompetensi Siswa (LKS), Kompetisi Sains Nasional (KSN), Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI), Kompetisi Olahraga Siswa Nasional (KOSN), Festival Inovasi Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI),  National University Debating Championship (NUDC), Kompetisi Debat Mahasiswa Indonesia (KDMI), atau Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Nasional (PILMAPRES).

"Prestasi generasi muda di Kota Padangsidimpuan lebih banyak pada urusan modeling, tetapi sampai hari ini kita tidak pernah mendengar ada kontribusinya terhadap perkembangan industri modeling di kota ini," katanya. 

Menurut Efry, berdasarkan banyak literatur sejarah, Kota Padangsidimpuan telah melahirkan banyak tokoh pendidikan, pemikir kebudayaan, orang-orang kreatif yang memberi kontribusi terhadap bangsa dan negara. 

"Padangsidimpuan sudah melahirkan  banyak tojkoh nasional. Negara tercinta ini berutang banyak terhadap rakyat Kota Padangsidimpuan," katanya. 

Tapi, lantaran proses regenerasi tidak berjalan dengan baik, apa yang sudah dilakukan para tokoh bangsa asal Kota Padangsidimpuan tak lagi diingat. "Orang-orang melupakan Lafran Pane sebagai salah satu generasi emas dari Kota Padangsidimpuan, yang hidup dan bersekolah di Kota Padangsidimpuan," katanya.

Lafran Pane salah seorang pendiri HMI. Ia menghabiskan masa kecilnya di Kota Padangsidimpuan. Namun, orang Padangsidimpuan kurang mengetahui bahwa Lafran Pane bagian dari kota ini.     

Menurut Efry, kondisi ini terjadi karena generasi muda tidak mempelajari sejarah yang ada di kotanya. Minat mereka sangat kurang, sehingga pengetahuan mereka menjadi minim. 

"Ada anak-anak yang berprestasi di bidang pembacaan puisi, menulis karya sastra, tetapi mereka menjadi pemenang bukan karena memahami apa yang dikerjakannya," katanya. 

Efry yang menjadi instruktur di bidang Menulis Puisi dalam kegiatan Coaching Clinic Menulis yang digelar di SMP Swasta Islam Terpadu Darul Hasan Kota Padangsidimpuan, berharap bisa menemukan siswa SMP IT Darul Hasan Kota Padangsidimpuan yang memiliki bakat di bidang sastra. 

"Siswa di Darul Hasan sering memenangi perlombaan-perlombaan. Semoga anak-anak yang menjadi pemenang perlombaan-perlombaan itu menjadi generasi yang berkembang dan mampu mengembangkan dunia sastra," katanya. 

Menurut Efry, generasi muda di Kota Padangsidimpuan kurang meminati literasi karena perkembangan zaman di era mereka merupakan zaman teknologi informatika. Alat-alat telekomunikasi seperti gatget lebih menyita perhatian generasi muda, dan itu menjauhkan mereka dari kerja-kerja yang membutuhkan ketekunan dan penguatan gagasan seperti kerja menulis karya sastra. 

"Generasi muda cenderung mengejar hiburan, memilih bermain game, melihat media sosial hanya untuk mendapatkan hal yang menghibur dirinya," katanya.