Sanggar SEP Gelar Kemah Budaya Angkola

Sanggar Seni SEP (Sahata Etnik Padangsidimpuan) menggelar Kemah Budaya Angkola 2025 di tengah-tengah masyarakat Lingkungan VI Kelurahan batunadua Jae, Kecamatan Batunadua, Kota Padangsidimpuan.

Penulis: Budi Hutasuhut | Editor: Nasaktion Efry

Para anak gadis di masa lalu tidak boleh sembarangan keluar rumah. Ruang gerak mereka dibatasi adat istiadat yang menjadi tata krama sosial, di mana seorang gadis harus menjaga kehormatan dengan tidak keluar rumah untuk keluyuran. 

Pada masa itu, leluhur budaya Batak di lingkungan Angkola menciptakan tradisi markusip, sebuah kebiasaan yang mengatur tata cara bergaul di kalangan anak muda. Tradisi ini memungkinkan seorang gadis yang tidak boleh sembarangan keluar dari rumah untuk menjaga kehormatannya, dapat berkomunikasi dengan pemuda impiannya dengan cara berbisik lewat celah-celah dinding rumah. 

Seorang pemuda yang naksir kepada seorang gadis, akan mendatangi dinding kamar tidur gadis itu pada malam hari. Ia kemudian akan memberitahu siapa dirinya, dan menyampaikan keinginannya untuk berkomunikasi dengan si gadis perihal isi hatinya.Jika si gadis mengenali pemuda itu dan memiliki perasaan yang sama, komunikasi di antara mereka akan berjalan dengan baik. Pada akhirnya, mereka akan sepakat untuk melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan.   

Tradisi markusip ini membatasi pertemuan antara gadis dengan pemuda. Pertemuan di antara mereka baru benar-benar terjadi bila sudah ada kesepakatan di antara mereka untuk melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan. Dengan pembatasan itu, tidak pernah ada kabar terjadi kehamilan di luar pernikahan. Namun, tradisi markusip sudah ditinggalkan.

Lima belas anak-anak dari berbagai sekolah dasar di Kota Padangsidimpuan yang tergabung dalam Sanggar Tari SEP menampilkan tari markusif, menampilkan gerak tari yang memperagakan bagaimana tradisi markusip dijalankan. Tari yang diciptakan  Nayla Anggraini Siregar ini, ditampilkan sebagai pembuka kegiatan Kemah Budaya Angkola 2025 yang ditaja Sanggar Seni SEP (Sahata Etnik Padangsidimpuan) di lapangan Lingkungan VI, Kelurahan Batunadua Jae, Kecamatan batunadua, kota padangsidimpuan, selama dua hari, 22--23 November 2025.  

"Tari markusif ini untuk mengingatkan generasi muda bahwa kebudayaan Angkola itu mewariskan nilai-nilai yang mengatur hubungan antara muda mudi," kata Nayla Anggraini Siregar. "Tari ini untuk mengembalikan ingatan generasi muda terhadap warisan leluhur budaya."

Selain menampilkan karya tari, kegiatan perkemahan yang diikuti seratus peserta dari Naposo Nauli Bulung (organisasi kepemudaan di tingkat kelurahan di Kota Padangsidimpuan), siswa SMA sederajat, dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang ada di Kota Padangsidimpuan ini, diisi dengan kegiatan Diskusi Budaya, Malam Api Unggun, Lomba Pantun Bahasa Batak, Lomba Dongeng Bahasa Batak, dan Lomba Margala atau Permainan Rakyat Tradisional.  

"Kegiatan Kemah Budaya Angkola 2025 ini difasilitasi fasilitas Fasilitas Pemajuan Kebudayaan yang diberikan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II Sumatra Utara. Ada 50 kegiatan, baik yang dilakukan komunitas maupun perorangan, yang mendapat fasilitas ini. Sanggar Seni SEP salah satunya," kata Linni Hutapea, ketua Sanggar Seni SEP. 

Linni Hutapea menambahkan, Sanggar SEP menggelar kegiatan Kemah Budaya Angkola untuk mengingatkan kembali kepada generasi muda bahwa nilai-nilai budaya warisan leluhur masyarakat Batak Angkola itu  layak untuk dimajukan dan dikembangkan. "Kebudayaan Batak Angkola bukan saja harus dilestarikan, tapi juga harus dikembangkan dalam kehidupan hari ini," katanya. 

Hal senada disampaikan Dian Maas Saputra, ketua Panitia Kemah Kebudayaan Angkola 2025 dalam kata sambutannya, bahwa kebudayaan Angkola jarang dipikirkan masyarakat pemiliknya sehingga dikhawatirkan keberadaannya akan dilupakan. "Kemah Kebudayaan Angkola ini mencoba mengembalikan ingatan dengan menggelar Diskusi Budaya, lomba berbahasa batak, dan lomba permainan rakyat," katanya. 

Menurut Dian, acara Kemah Kebudayaan Angkola digelar dalam bentuk perkemahan dan sengaja dibuat di tengah-tengah perkampungan masyarakat agar para orang tua memahami bahwa kegiatan perkemahan itu bukan kegiatan hura-hura. "Kegiatan perkemahan dapat menjadi ruang belajar bagi generasi muda," katanya. 

Kemah Kebudayaan Angkola 2025 menjadi kegiatan yang diikuti ratusan masyarakat Lingkungan VI kelurahan Batunadua Jae. Acara yang dibuka oleh Kepala Lingklungan VI Kelurahan Batunadua Jae, Hasrin Siregar, ini dihadiri Lurah Kelurahan Batunadua Jae, Rudy Iswandhi, S.Pd (Kepala Bidang Pembinaan Ketenagaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padng Sidimpuan), Purnadi, S.E. (anggota DPRD Kota Padangsidimpuan), dan wakil dari Kepolisian Sektor (Polsek) Batunadua. 

Dalam kata sambutannya, Rudy Iswandhi, S.Pd mengatakan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padangsidimpuan sangat mendukung upaya masyarakat untuk mengembangkan kebudayaan daerah dengan menggelar kegiatan-kegiatan seperti Kemah Budaya. Pasalnya, pemerintah daerah telah merumuskan pokok-pokok kebudayaan daerah (PPKD) yang akan dimajukan di Kota Padangsidimpuang. 

Hal serupa disampaikan Purnadi, S.E., ketua DPD Pujakesuma Padangsidimpuan yang juga anggota DPRD Kota Padangsidimpuan dari Fraksi Parti Golkar. Ia mengatakan, pembangunan kebudayaan di Kota Padangsidimpuan harus melibatkan masyarakat yang merupakan pemilik kebudayaan tersebut. "Kegiatan seperti Kemah Budaya ini harus lebih banyak dilakukan di Kota Padangsidimpuan," katanya.

Para undangan membuka kegiatan Kemah kebudayaan Angkola dengan menyalakan api unggun.  

Acara Kemah Kebudayaan Angkola diisi dengan Lomba Pantun Bahasa Batak, Lomba Marturi (Dongeng) Bahasa Batak, dan Lomba Margala Panjang sebuah permainan rakyat tradisional di lingkungan masyarakat Batak. 



Posting Komentar