Sanggar Seni SEP (Sahata Etnik Padangsidimpuan) adalah simpul jaringan kantong-kantong budaya di wilayah Tapanuli bagian Selatan yang berkomitmen menguatkan tata kelola dan ekosistem ekosistem kreatif yang melibatkan sastrawan, seniman, akademisi, budayawan, sejarawan, pelaku bisnis UMKM, komunitas, pemerintah, dan media.
LIMA KEGIATAN SANGGAR SEP |(1) SEPedu--Pendidikan dan Pelatihan bagi Pelaku Seni Tradisi dan Moderen;
(2)SEPidea--Penelitian dan Riset Pengembangan serta Pelestarian Kesenian Tradisi;
(3)SEPfest--Produksi dan Pementasan Karya Seni Tradisi dan Moderen;
(4) SEPevent -- Event Organizer Kegiatan Kesenian berupa penyelenggara festival, pameran, diskusi, seminar; dan
(5) SEPcare -- Kegiatan di bidang sosial untuk membantu masyarakat (terutama para seniman) yang berada dalam masalah sosial, terkena bencana alam.
Untuk mendukung kerja-kerja budaya yang dilakukan, pendiri Sanggar SEP kemudian mengurus legalitas hukum lembaga berupa Akta Notaris Nomor: 12 tertanggal 17 Januari 2025 dari Notaris Edy Anwar Ritonga, S.H., M.Kn. Setelah itu, mendapatkan Surat Keputusan Menteri Hukum RI Nomor AHU-0003844.AH.01.07.TAHUN 2025 tentang Pengesahan Pendirian Perkumpulan Sanggar Seni Sahata Etnik Padangsidimpuan tertanggal 15 Mei 2025.
SEP selama ini melakukan penelitian dan pengkajian terhadap ragam karya seni tradisional maupun moderen yang berkembang di wilayah Tapanuli bagian Selatan (Tabgsel). Hasil kajian menjadi sumber data untuk melakukan pengembangan dalam rangka pelestarian karya-karya seni tradisional, baik seni kriya, seni rupa, seni ukir, seni tari, seni sastra, dan seni musik.
Pengembangan juga dilakukan dengan memproduksi karya seni yang mengkolaborasi seni tradisi dengan seni moderen, yang tujuannya untuk edukasi maupun pertunjukan dalam semangat mengembangkan lingkungan kreatif berkesenian di wilayah Tapanuli bagian Selatan (Tabagsel).
SEP memilih pusat kegiatan di Kota Padangsidimpuan karena kota ini memiliki sejarah sebagai ibu kota Keresidenan Tapanuli yang merupakan bentuk awal dari wilayah regional Tapanuli bagian Selatan.
Pada masa awal kemerdekaan Republik Indonesia, wilayah Keresidenan Tapanuli di Selatan berubah menjadi Daerah Tingkat II Kabupaten Tapanuli Selatan dengan ibu kota, Kota Padangsidimpuan. Pasca reformasi, Kabupaten Tapanuli Selatan menjadi wilayah Tapanuli bagian Selatan, berkembang menjadi beberapa daerah otonomi baru. Kabupaten Tapanuli Selatan sebagai induk, dimekarkan menjadi Kabupaten Mandailing Natal, Kota Padangsidimpuan, Kabupaten Padanglawas, dan Kabupaten Padanglawas Utara.
Secara kultural, wilayah Tapanuli bagian Selatan merupakan daerah asli masyarakat berbudaya Angkola dan Mandailing. Namun, sejak abad ke-18, wilayah ini telah menjadi daerah yang heterogen dengan adanya pertambahan penduduk akibat perpindahan dari berbagai wilayah. Saat ini, Tapanuli bagian Selatan menjadi tempat tinggal dan wilayah hidup masyarakat berbudaya Angkola, Mandailing, Minangkabau, Jawa, Ulu, Toba, Karo, Simalungun, Nias, Sunda, Tionghoa, dan lain sebagainya.
VISI |Memelihara, melestarikan, mengembangkan karya-karya seni tradisional dan moderen sebagai alat mengekspresikan kebebasan berkarya dan berpikir
Memberi ruang bagi keberagaman budaya, kekayaan artistik dan intelektual sehingga ekspresi-ekspresi seni tradisi yang ada akan terakomodasi.
Keanekaragaman budaya masyarakat lebih nyata pada sejarah terbentuknya Kota Padangsidimpuan sebagai “kota satelit” yang diapit oleh Kota Sipirok (ibu kota Kabupaten tapanuli Selatan), Kota Gunungtua (ibu kota Kabupatren padanglawas Utara), dan Kota Sibuhuan (ibu kota Kabupaten Mandailing Natal).
Pada akhir abad ke-19, ketika Pemerintah Hindia Belanda masih berkuasa, Kota Padangsidimpuan dirancang untuk terhubung dengan Kota Sibolga sebagai daerah pelabuhan dan Kota Ford de Kock (Bukit Tinggi) sebagai pusat perdagangan, sehingga warga Kota Padangsidimpuan, terutama kalangan pengusaha, selalu berhubungan dengan Kota Sibolga dan Kota Bukit Tinggi.
Sosok Parada Harahap, tokoh nasional asal Kota Padangsidimpuan yang dikenal sebagai The King of Java Press, merupakan pengusaha surat kabar yang memulai karier di Kota Padangsidimpuan dan memiliki percetakan di Kota Sibolga serta mengembangkan surat kabar baru di Kota Bukit Tinggi yang sumber daya manusianya dibawa dari Kota Padangsidimpuan.
MISI |Mengumpulkan, melestarikan, dan mengembangkan pelbagai kegiatan seni tradisi dan moderen
Meningkatkan kualitas apresiasi seni di masyarakat dan memperluas khazanah kesenian
Mengakomodir ekspresi-ekspresi seni yang ada di masyarakat dan mendorong kegiatan kesenian dalam menghasilkan inovasi karya.
Mendorong dunia kesenian berkembang lebih pesat
Memperkenalkan kepada khalayak, khususnya generasi muda, hasil-hasil kesenian bermutu dari dalam dan luar negeri sekaligus menumbuhkan ekosistem berkesenian dan berkreativitas.
Ketika Kota Padangsidimpuan yang berstatus sebagai Afdeling Padangsidimpuan menjadi ibu kota Keresidenan Tapanuli selama periode 1885-1905, Pemerintah Hindia Belanda merancang kota ini sebagai pusat perkantoran, pusat perdagangan, dan pusat pendidikan.
Kehadiran Kweekschool Padangsidimpuan, HIS Padangsidimpuan, dan MULO Padangsidimpuan membuat kota ini menjadi tempat tujuan pendidikan yang ramai dikunjungi dari berbagai daerah, dan dinamika itu mendorong para pelaku usaha mengembangkan bisnis mereka yang akhirnya membuat Kota Padangsidimpuan menjadi kota yang plural.
Seluruh masyarakat budaya yang membentuk Kota Padangsidimpuan memiliki produk-produk budaya tradisionalnya masing-masing. Para pelaku budayanya berusaha menjaga, melestarikan, dan mengembangkan produk budaya lokalnya. Semua produk budaya lokal itulah yang dikumpulkan SEP, selain produk-produk seni budaya Angkola dan Mandailing.
SEP kemudian menampilkan beragam kesenian tradisional dan moderen. SEP juga terbuka terhadap siapa saja yang berminat mengembangkan kreativitas dan keterampilan berkesenian dan pemikiran, menghargai keberagamaan untuk menghidupkan mutu kebebasan berpikir.

COMMENTS