Ada empat kegiatan utama SEP, yakni: (1) Pendidikan dan Pelatihan bagi Pelaku Seni Tradisi dan Moderen; (2)Penelitian dan Riset Pengembangan serta Pelestarian Kesenian Tradisi; (3)Produksi dan Pementasan Karya Seni Tradisi dan Moderen; dan (4) Event Organizer Kegiatan Kesenian berupa penyelenggara festival, pameran, dan diskusi, seminar.
Untuk mendukung kerja-kerja budaya yang dilakukan, pendiri SEP kemudian mengurus legalitas hukum lembaga berupa Akta Notaris Nomor: 12 tertanggal 17 Januari 2025 dari Notaris Edy Anwar Ritonga, S.H., M.Kn. Setelah itu, mendapatkan Surat Keputusan Menteri Hukum RI Nomor AHU-0003844.AH.01.07.TAHUN 2025 tentang Pengesahan Pendirian Perkumpulan Sanggar Seni Sahata Etnik Padangsidimpuan tertanggal 15 Mei 2025.
DISKUSI BULANAN. Secara rutin, SEP menggelar acara Kombur Budaya yang membahas perihal nilai-nilai budaya yang ada di lingkungan masyarakat, baik tradisional maupun moderen, untuk mengumpulkan informasi tentang kekayaan budaya dalam rangka pelestarian demi kegiatan pemajuan kebudayaan.
SEP selama ini melakukan penelitian dan pengkajian terhadap ragam karya seni tradisional maupun moderen yang berkembang di wilayah Tapanuli bagian Selatan (Tabgsel). Hasil kajian menjadi sumber data untuk melakukan pengembangan dalam rangka pelestarian karya-karya seni tradisional, baik seni kriya, seni rupa, seni ukir, seni tari, seni sastra, dan seni musik.
Pengembangan juga dilakukan dengan memproduksi karya seni yang mengkolaborasi seni tradisi dengan seni moderen, yang tujuannya untuk edukasi maupun pertunjukan dalam semangat mengembangkan lingkungan kreatif berkesenian di wilayah Tapanuli bagian Selatan (Tabagsel).
SEP memilih pusat kegiatan di Kota Padangsidimpuan karena kota ini memiliki sejarah sebagai ibu kota Keresidenan Tapanuli yang merupakan bentuk awal dari wilayah regional Tapanuli bagian Selatan.
Pada masa awal kemerdekaan Republik Indonesia, wilayah Keresidenan Tapanuli di Selatan berubah menjadi Daerah Tingkat II Kabupaten Tapanuli Selatan dengan ibu kota, Kota Padangsidimpuan. Pasca reformasi, Kabupaten Tapanuli Selatan menjadi wilayah Tapanuli bagian Selatan, berkembang menjadi beberapa daerah otonomi baru. Kabupaten Tapanuli Selatan sebagai induk, dimekarkan menjadi Kabupaten Mandailing Natal, Kota Padangsidimpuan, Kabupaten Padanglawas, dan Kabupaten Padanglawas Utara.
Secara kultural, wilayah Tapanuli bagian Selatan merupakan daerah asli masyarakat berbudaya Angkola dan Mandailing. Namun, sejak abad ke-18, wilayah ini telah menjadi daerah yang heterogen dengan adanya pertambahan penduduk akibat perpindahan dari berbagai wilayah. Saat ini, Tapanuli bagian Selatan menjadi tempat tinggal dan wilayah hidup masyarakat berbudaya Angkola, Mandailing, Minangkabau, Jawa, Ulu, Toba, Karo, Simalungun, Nias, Sunda, Tionghoa, dan lain sebagainya.
Keanekaragaman budaya masyarakat lebih nyata pada sejarah terbentuknya Kota Padangsidimpuan sebagai “kota satelit” yang diapit oleh Kota Sipirok (ibu kota Kabupaten tapanuli Selatan), Kota Gunungtua (ibu kota Kabupatren padanglawas Utara), dan Kota Sibuhuan (ibu kota Kabupaten Mandailing Natal).
Pada akhir abad ke-19, ketika Pemerintah Hindia Belanda masih berkuasa, Kota Padangsidimpuan dirancang untuk terhubung dengan Kota Sibolga sebagai daerah pelabuhan dan Kota Ford de Kock (Bukit Tinggi) sebagai pusat perdagangan, sehingga warga Kota Padangsidimpuan, terutama kalangan pengusaha, selalu berhubungan dengan Kota Sibolga dan Kota Bukit Tinggi. Sosok Parada Harahap, tokoh nasional asal Kota Padangsidimpuan yang dikenal sebagai The King of Java Press, merupakan pengusaha surat kabar yang memulai karier di Kota Padangsidimpuan dan memiliki percetakan di Kota Sibolga serta mengembangkan surat kabar baru di Kota Bukit Tinggi yang sumber daya manusianya dibawa dari Kota Padangsidimpuan.
Ketika Kota Padangsidimpuan yang berstatus sebagai Afdeling Padangsidimpuan menjadi ibu kota Keresidenan Tapanuli selama periode 1885-1905, Pemerintah Hindia Belanda merancang kota ini sebagai pusat perkantoran, pusat perdagangan, dan pusat pendidikan.
Kehadiran Kweekschool Padangsidimpuan, HIS Padangsidimpuan, dan MULO Padangsidimpuan membuat kota ini menjadi tempat tujuan pendidikan yang ramai dikunjungi dari berbagai daerah, dan dinamika itu mendorong para pelaku usaha mengembangkan bisnis mereka yang akhirnya membuat Kota Padangsidimpuan menjadi kota yang plural.
Seluruh masyarakat budaya yang membentuk Kota Padangsidimpuan memiliki produk-produk budaya tradisionalnya masing-masing. Para pelaku budayanya berusaha menjaga, melestarikan, dan mengembangkan produk budaya lokalnya. Semua produk budaya lokal itulah yang dikumpulkan SEP, selain produk-produk seni budaya Angkola dan Mandailing.
SEP kemudian menampilkan beragam kesenian tradisional dan moderen. SEP juga terbuka terhadap siapa saja yang berminat mengembangkan kreativitas dan keterampilan berkesenian dan pemikiran, menghargai keberagamaan untuk menghidupkan mutu kebebasan berpikir.
Visi
Memelihara, melestarikan, mengembangkan karya-karya seni tradisional dan moderen sebagai alat mengekspresikan kebebasan berkarya dan berpikir
Memberi ruang bagi keberagaman budaya, kekayaan artistik dan intelektual sehingga ekspresi-ekspresi seni tradisi yang ada akan terakomodasi.
Misi
Mengumpulkan, melestarikan, dan mengembangkan pelbagai kegiatan seni tradisi dan moderen
Meningkatkan kualitas apresiasi seni di masyarakat dan memperluas khazanah kesenian
Mengakomodir ekspresi-ekspresi seni yang ada di masyarakat dan mendorong kegiatan kesenian dalam menghasilkan inovasi karya.
Mendorong dunia kesenian berkembang lebih pesat
Memperkenalkan kepada khalayak, khususnya generasi muda, hasil-hasil kesenian bermutu dari dalam dan luar negeri
Memperkenalkan kota Padangsidimpuan sebagai kota yang punya sumber-sumber seni dan ilmu pengetahuan
PROGRAM KERJA
SEP Festival Seni Tradisi (SEPFest)
PENTAS KUDA LUMPING. Sanggar Seni SEP menggelar Pentas Kuda Lumping untuk memperkenalkan hasil karya Sanggar Langgeng Budoyo, sanggar kuda lumping milik masyartakat Jawa yang ada di Kota Padangsidimpuan.
SEPFest adalah festival seni pertunjukan yang menampilkan seniman/kelompok seni dari berbagai sanggar/kelompok seni di wilayah Tapanuli bagian Selatan yang aktif berkreativitas dan memproduksi karya seni.
SEPFest digelar dengan mengusung tema tertentu untuk merangsang para pelaku seni, baik seniman tunggal maupun sanggar/kelompok seni, agar memiliki momentum untuk menunjukkan karya kreatifnya kepada masyarakat luas. Di dalam SEPFest, masyarakat bisa berinteraksi langsung dengan pelaku seni atau sebaliknya para pelaku kesenian menjadi lebih dekat dengan masyarakatnya.
Selain menampilkan karya-karya seni pertunjukan seperti teater (sandiwara) lokal, SEPFest juga menampilkan ragam karya seni tradisional seperti karya kriya, wastra, seni ukir, seni musik tradisional. Bentuk kegiatan berupa pameran karya seni.
SEPFest digelar dengan melibatkan masyarakat, pelaku seni, dan pemerintah daerah yang ada di wilayah Tapanuli bagian Selatan.
SEP Literature and Ideas (SEPLitdea)
PENELITIAN NUNGNENG. SEP melakukan penelitian alat musik tradisional masyarakat Angkola yang disebut Nungneng, terbuat dari bambu, merupakan warisan musik tradisional yang sudah ada sebelum pengaruh alat musik budaya asing seperti gong, gendang, dan lain sebagainya masuk ke lingkungan masyarakat.
SEPLitdea merupakan kegiatan riset mengumpulkan data dan informasi tentang ragam literatur sejarah kesenian tradisional dan ragam karya seni tradisional yang berkembang di Tapanuli bagian Selatan untuk diproduksi sebagai buku dalam rangka menyebarluaskan pengetahuan seni tradisional kepada masyarakat guna pelestarian dan pengembangan.
Kegiatan ini ditandai dengan penawaran ide dan gagasan pengembangan tradisi dalam bentuk forum diskusi, seminar, dan lewat publikasi media sosial. Hasil dari diskusi dan seminar yang digelar SEP menjadi sumber data dan informasi untuk dirancang sebagai ide dan gagasan dalam pengembangan dan pelestarian seni budaya tradisional.
Output kegiatan ini dapat menguatkan pengetahuan masyarakat tentang seni tradisi, memperluas perspektif masyarakat terhadap suatu wacana dan masalah, serta memperkaya wawasan intelektual.
Di dalam SEPLitdea, SEP sering bekerja sama dengan lembaga-lembaga yang memiliki konsentyrasi serupa seperti Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) , Batak Center Sumatra Utara , Sahata Institute, Bengkel Kreatif, dan sejumlah perguruan tinggi yang ada di wilayah Tapanuli bagian Selatan.
SEP Edukasi (SEPEdu)
Program SEPEdu dilaksanakan lewat model kerjasama dengan lembaga-lembaga pendidikan formal tingkat SD., SMP, SMA sederajat, baik negeri maupun swasta.
Di dalam pelaksanaan program SEPEdu, ditampilkan metoda Coaching Clinic berupa layanan konsultasi dan pendampingan, baik secara daring maupun luring, yang bertujuan untuk memberikan penjelasan dan bimbingan teknis kepada individu atau kelompok dalam suatu bidang kesenian.
SEP Event (SEPEvent)
SEPEvent fokus pada pelaksanaan sejumlah event yang bertujuan meningkatkan kreativitas dalam menghasilkan karya seni berupa lomba dan sayembara karya seni seperti Sayembara Menulis Karya Sastra, Sayembara Melukis, Sayembara Menari, dan lain sebagainya.
SEPEvent juga menawarkan hadiah untuk biaya operasional memproduksi karya seni. Selain itu, para pemenang kegiatan SEPEvent akan didorong untuk mengikuti kegiatan-kegiatan festival yang digelar lembaga-lembaga kesenian di daerah lain.
SEPCare
SEPCare fokus pada kegiatan sosial yang difokuskan pada bencana alam terhadap para seniman dan pelaku seni serta masyarakat luas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar