Puisi Dian Maas Saputra - Bengkel Kreatif

Breaking

Bengkel Kreatif

Wadah Berkarya & Berinovasi

Post Top Ad

Kamis, 18 Desember 2025

Puisi Dian Maas Saputra

MEULABOH

 --teuku umar

Malam membentangkan dirinya sebagai tanda

tapi kami luput membaca kerdip bintang yang jauh

dan alpa bertanya kenapa bulan pucat adanya

di atas laut Meulaboh. Ombak pecah tanpa deru


di pantai pesisir, mestinya ia sebuah isyarat atau pesan

sebab kami akrab dengan alam. Tapi malam itu

banyak hal tak kami perhatikan sebagaimana kebiasaan

selalu curiga, setiap kali kami mengetuk pintu


di daerah baru. Meulaboh adalah daerah lama,

kami kenal tiap sudutnya seperti pada kampong

sendiri, dan kami tak merasa perlu bercuriga.

Semua orang adalah saudara,  dari uleebalang


sampai warga biasa.  Darah di tubuh kami merah

yang sama,  tertusuk pada mereka, luka pada kami

tertindas mereka menggelegak seluruh amarah.

Malam itu, kami pulang untuk menata diri


setelah pertempuran-pertempuran, dari kemenangan

ke lain keberhasilan, kami ingin menyembuhkan

bagian dari tubuh yang sakit. Dengan air basuhan

kaki ibu, pelukan anak-istri, dan doa-doa keberkatan


dari seluruh kerabat. Tapi malam itu kami tak menatap

langit, tak membaca isyarat dan tanda, tak bertanya

kenapa begitu hening di Meulaboh. Kami tergeragap

ketika dari depan ada serangan, dari belakang menyalak


tembakan. “Allohu akbar!” Aku dengar suara Teuku

beberapa menit sebelum sebutir peluruh menembus

dadanya. “Teuku! Teuku…! Teuku!” Aku menyeru,

tapi suaraku terhenti, peluruh di tubuhku tembus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad