MEULABOH
--teuku umar
Malam membentangkan dirinya sebagai tanda
tapi kami luput membaca kerdip bintang yang jauh
dan alpa bertanya kenapa bulan pucat adanya
di atas laut Meulaboh. Ombak pecah tanpa deru
di pantai pesisir, mestinya ia sebuah isyarat atau pesan
sebab kami akrab dengan alam. Tapi malam itu
banyak hal tak kami perhatikan sebagaimana kebiasaan
selalu curiga, setiap kali kami mengetuk pintu
di daerah baru. Meulaboh adalah daerah lama,
kami kenal tiap sudutnya seperti pada kampong
sendiri, dan kami tak merasa perlu bercuriga.
Semua orang adalah saudara, dari uleebalang
sampai warga biasa. Darah di tubuh kami merah
yang sama, tertusuk pada mereka, luka pada kami
tertindas mereka menggelegak seluruh amarah.
Malam itu, kami pulang untuk menata diri
setelah pertempuran-pertempuran, dari kemenangan
ke lain keberhasilan, kami ingin menyembuhkan
bagian dari tubuh yang sakit. Dengan air basuhan
kaki ibu, pelukan anak-istri, dan doa-doa keberkatan
dari seluruh kerabat. Tapi malam itu kami tak menatap
langit, tak membaca isyarat dan tanda, tak bertanya
kenapa begitu hening di Meulaboh. Kami tergeragap
ketika dari depan ada serangan, dari belakang menyalak
tembakan. “Allohu akbar!” Aku dengar suara Teuku
beberapa menit sebelum sebutir peluruh menembus
dadanya. “Teuku! Teuku…! Teuku!” Aku menyeru,
tapi suaraku terhenti, peluruh di tubuhku tembus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar