Bokor Hutasuhut, Sastrawan yang Berpolitik - Bengkel Kreatif

Breaking

Bengkel Kreatif

Wadah Berkarya & Berinovasi

Post Top Ad

Kamis, 08 Januari 2026

Bokor Hutasuhut, Sastrawan yang Berpolitik

Penulis bersama dua anak Bokor Hutasuhut dalam acara Tribute to Bokor Hutasuhut dalam ajang Balige Writer Festival 2022.

Bokor Hutasuhut seorang sastrawan yang berpolitik sepanjang dekade 1950-an sampai 1960-an. Sejarah mencatat nama sastrawan asal Sipirok, Sumatra Utara, ini sebagai penandatangan Manifestasi Kebudayaan, sebuah sikap yang berseberangan dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat.

Yang dimaksud berpolitik pada judul tulisan ini bukan terlibat dalam partai politik atau politik praktis sebagaimana para politisi akhir-akhir ini sibuk membuat survei tentang potensi-potensi suara yang dapat membantunya mendapatkan kursi di legislatif pasca Pemilu 2024 mendatang. Bukan juga berpolitik seperti diajarkan elite-elite di negara kita tentang memperkaya diri sendiri dengan cara menguras Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) ke dalam program-program populis yang bernama subsidi tetapi yang menikmatinya segelintir orang kaya yang dekat dengan elite seperti kebijakan subsidi kendaraan listrik.  Berpolitik di sini lebih tepat disebut berkegiatan (mengacu pada istilah orang Arab) yang bisa juga dimaknai berstrategi, di mana politik merupakan  seni meraih atau memenangi kekuasaan atau bahasa lebih sederhana ilmu untuk mencapai tujuan tertentu.


Menyebut Bokor Hutasuhut sebagai sastrawan yang berpolitik berkaitan dengan keterlibatannya dalam pertarungan gagasan tentang konsep kebudayaan nasional pada masa Demokrasi Terpimpin menghasilkan Tuan Besar Revolusi bernama Soekarno. Pertarungan gagasan yang berbuntut pada aksi pencekalan, penistaan, kekerasan verbal dan non-verbal, dan hal-hal yang membawa pengaruh buruk terhadap subtansi karya sastra sebagai medium persoalan moralitas manusia. Pertarungan yang membuat para pengarang terpolarisasi ke dalam dua kubu: Manifestasi Kebudayaan dan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra).

 

Menyebut Bokor Hutasuhut sebagai sastrawan yang berpolitik berkaitan dengan keterlibatannya dalam pertarungan gagasan tentang konsep kebudayaan nasional pada masa Demokrasi Terpimpin menghasilkan Tuan Besar Revolusi bernama Soekarno. Pertarungan gagasan yang berbuntut pada aksi pencekalan, penistaan, kekerasan verbal dan non-verbal, dan hal-hal yang membawa pengaruh buruk terhadap subtansi karya sastra sebagai medium persoalan moralitas manusia. Pertarungan yang membuat para pengarang terpolarisasi ke dalam dua kubu: Manifestasi Kebudayaan dan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra).  Dan Bokor Hutasuhut ada di pihak Manifestasi Kebudayaan sampai peristiwa Gerakan 30 S PKI pada 1965  meledak, yang membuat pertarungan gagasan itu menghasilkan trauma sejarah bagi banyak kalangan. Tuan Besar Revolusi yang disingkirkan karena  gagasan politik kebudayaannya dinilai banyak pihak berbau komunisme, kemudian  digantikan oleh Tuan Besar Pembangunan yang  akhirnya disingkirkan juga oleh rakyat pada 1998 lantaran terlalu besar.


Selama tiga tahun Bokor Hutasuhut berpolitik dengan cara mencari strategi meraih kekuasaan (kemenangan) demi kepentingan orang banyak yang ditempuh dengan cara yang bijak, elegan dan tetap menjunjung tinggi etika politik. Orang yang bijak berpolitik tidak pernah melihat lawan politik sebagai  musuh yang harus di habisi tetapi melihat lawan politik sebagai mitra kompetisi dalam memotivasi diri untuk tampil lebih baik. “Mereka yang berdiri di sisi Lekra adalah para pengarang, orang-orang dengan siapa saya sering berinteraksi,” kata Bokor Hutasuhut kepada saya pada hari lain pada periode awal dekade 2000-an.


Saat itu saya bertemu Bokor Hutasuhut di rumah salah seorang kerabat kami, di Jalan Karya, Kota Medan, Sumatra Utara. Itu bukan pertemuan pertama dan terakhir, tetapi pertemuan yang ke sekian kali. Setelah itu kami masih sering bertemu dalam acara Keluarga Besar Marga Hutasuhut, kami juga acap berjumpa di Taman Budaya Sumatra Utara, di salah satu sudut tempat berkesenian itu sambil mengopi. Kami  mengobrol sebagaimana ayah dengan anaknya. Saya banyak dinasehati tentang realitas pahit di dunia sastra ketika politik jadi panglima dan kreativitas bukan hal yang bisa diandalkan, dan dunia kesusastraan kita tidak pernah bisa melepaskan diri dari kehadiran sastrawan yang berpolitik.


Di hari lain Bokor Hutasuhut bercerita tentang suatu masa di negeri ini ketika ia ikut dalam perumusan Manifestasi Kebudayaan, dan ia harus menerima kenyataan pahit kehilangan sahabat-sahabat sesama pengarang, dan peristiwa itu membuatnya sangat terpukul hingga mempengaruhi produktivitasnya dalam berkarya. Ia dan karyanya nyaris tak pernah muncul dalam majalah sastra yang diterbitkan pasca peristiwa 1965.  Ia seakan-akan sudah selesai sebagai pengarang, membuat namanya kurang didengar dalam pembicaraan tentang karya sastra, meskipun sesungguhnya ia tidak sepenuhnya meninggalkan dunia sastra. Ia selalu punya jawaban setiap kali ada yang bertanya tentang karya terbarunya atau kenapa ia tidak lagi menulis karya sastra?  Dengan nada bercanda, ia akan berkata: “Apa lagi yang harus aku tulis, aku sudah menaklukkan ujung dunia.”


Ucapan itu mengacu pada novelnya, Penakluk Ujung Dunia. Novel yang diterbitkan tahun 1964 itu menjadi mahakarya Bokor Hutasuhut meskipun dia telah menulis dua novel lain, Tanah Kesayangan (1965) dan Pantai Barat (1988) serta cerita pendek yang terkumpul dalam buku Datang Malam (1963) dan ratusan cerita pendek lainnya yang berserakan di sejumlah majalah sejak dekade 1950-an. Sebagai sebuah mahakarya, Penakluk Ujung Dunia jadi metafora bagi Bokor Hutasuhut untuk mendaku dirinya sebagai penakluk ujung dunia. Novel itu memang berkisah tentang orang yang berhasil menaklukkan ujung dunia, dan Bokor Hutasuhut adalah seorang pengarang yang sangat biografis dalam menghasilkan karyanya. Di dalam sebagian besar karyanya, pembaca seakan-akan melihat dua penggal hal yang sangat mendasar; sepenggal riwayat hidup Bokor Hutasuhut lengkap dengan alam di mana ia lahir dan besar dan penggalan sisanya adalah imajinasi yang berfungsi sebagai bumbu agar riwayat hidup itu tidak kering saat dinikmati pembaca.


Dalam novel Penakluk Ujung Dunia, dua hal itu sangat kental. Bokor Hutasuhut merekam pengalaman pribadinya keluar-masuk ke perkampungan masyarakat Batak bersama ayahnya yang menjadi seorang mubaliq, dan pengalaman pribadi itu berupa mendapatkan cerita-cerita rakyat dari orang-orang yang ditemui terkait realitas antropologi masyarakat Batak yang ada di sekitar Danau Toba. Dalam banyak cerita rakyat yang berkembang disebutkan, pernah pada suatu masa leluhur masyarakat Batak hidup untuk menyalakan peperangan terus-menerus, mencari komunitas-komunitas masyarakat adat yang lemah untuk diperangi agar tanah dan harta-benda mereka bisa dikuasai.  Peperangan menjadi pilihan utama untuk mempertahankan hidup yang sangat tergantung terhadap pemberian sumber daya alam.  Begitu juga sebaliknya, setiap komunitas masyarakat marga harus mempersiapkan diri dengan pengetahuan berperang untuk menghadapi serbuan dari komunitas lain agar tidak kehilangan kehormatan dan hidup dalam penderitaan sebagai jappurut akibat kalah dalam peperangan.


Dalam novel Penakluk Ujung Dunia, dua hal itu sangat kental. Bokor Hutasuhut merekam pengalaman pribadinya keluar-masuk ke perkampungan masyarakat Batak bersama ayahnya yang menjadi seorang mubaliq, dan pengalaman pribadi itu berupa mendapatkan cerita-cerita rakyat dari orang-orang yang ditemui terkait realitas antropologi masyarakat Batak yang ada di sekitar Danau Toba


Bokor Hutasuhut yang lahir dan besar di Balige menyadari betul, masa lalu leluhur bangso Batak yang keras dan selalu berperang itu, erat kaitannya dengan bonabulu (tanah kelahiran) atau tanah asal. Setiap komunitas masyarakat adat ditandai dengan adanya wilayah sendiri yang diatur oleh seorang pemimpin sebagai pemegang kekuasaan atas sistem yang diwarisi secara turun-temurun. Ketika tanah atau daerah suatu komunitas tidak bisa dipertahankan oleh pemiliknya karena kalah perang, maka komunitas itu akan punah. Kalau tidak punah atau saat perang mereka ditangkap (ditaban), seumur hidup mereka akan menyandang predikat sebagai keturunan jappurut, status sebagai budak kalah perang yang diperjualbelikan dan tidak memiliki hak-hak adat sesuai dengan hokum adat yang berlaku dalam komunitas masyarakat adat yang menahannya. Sampai sekarang, pada beberapa komunitas masyarakat adat bermarga Batak, masih ada trauma masa lalu akibat leluhurnya diperlakukan sebagai jappurut.


Sayangnya, tak pernah terdengar ada cerita rakyat yang mengisahkan tentang masyarakat atau anggota dari sebuah komunitas yang secara tegas menolak ikut berperang apabila keputusan berperang sudah disepakati. Keputusan untuk berperang atau memerangi komunitas lain diawali dengan musyawarah di internal komunitas, kemudian disepakati akan dibuat pulas (surat tantangan) ke komunitas yang akan diperangi yang isinya “jika komunitas itu tidak ingin terlalu menderita, maka mereka harus meninggalkan perkampungannya”. Setiap komunitas sadar betul akibat perang adalah kepunahan, kehancuran, dan semua komunitas lebih memilih untuk berperang daripada menyerah.  Sebab itu, berperang menjadi  bagian terpenting dalam mempertahankan dan bertahan dalam kehidupan sehingga menjadi tradisi yang dijaga terus-menerus lengkap dengan tradisi senjata tajam seperti pembuatan hujur (tombak), juga tradisi menanam bambo duri di sekeliling perkampungan yang berfungsi sebagai benteng pertahanan.


Bokor Hutasuhut merekam sejarah bangso Batak yang selalu identik dengan tanah (lahan hidup). Tanah bagi orang Batak adalah tahta, kekuasaan, kehidupan, keutuhan, dan kasih sayang terhadap sesama. Sebuah komunitas masyarakat marga belum bisa disebut masyarakat bila tak punya bona (tempat tinggal) yang dalam bahasa umpasa (metaforik) disebut portibi atau banua, yaitu sepetak tanah di mana masyarakat membangun perkampungan, memiliki lahan pertanian, dan menata sistem sosialnya. Tapi Bokor Hutasuhut justru menciptakan Ronggur, tokoh utama dalam Penakluk Ujung Dunia, seorang anak muda yang berpikiran maju, yang menolak ikut berperang, dan mencarikan solusi dengan cara mencari tanah lain sebagai daerah baru.


Penakluk Ujung Dunia mengisahkan perjuangan Ronggur untuk mencari tanah baru (habukkasan), melawan tradisi dan berhadapan dengan alam yang liar dan ganas.  Di satu sisi, Ronggur dimusuhi di kampungnya karena menolak tradisi dan di sisi lain Ronggur harus menghadapi kenyataan betapa ganasnya alam yang harus diatasinya.  Sebagai pengarang yang romantik – miminjam HB Jassin – Bokor Hutasuhut menyajikan akhir yang indah bagi Ronggur yang benar-benar berjuang. Pada decade 1940-an sampai 1950-an, roman Medan booming dengan para penulis seperti Matu Mona (Hasbullah Parinduri), Hamkah,  dan lain sebagainya. Masyarakat pembaca novel yang dimanjakan roman Medan sempat kehilangan bacaan pada akhir  decade 1950-an akibat kondisi perekonomian nasional (mempengaruhi pasokan kertas) dan situasi politik yang tak memberi tempat bagi berkembangnya penerbitan buku, menemukan bacaan baru pada novel-novel yang diterbitkan pada decade 1960-an dan salah satunya Penakluk Ujung Dunia.


Pengalaman masa kecil Bokor Hutasuhut melahirkan gagasan tentang “kenapa harus berperang kalau yang diinginkan hanya tanah” dan “bukankah tanah bisa dicari dengan menemukan lahan baru”.  Gagasan dasarnya, merekam sejarah bangso Batak yang masyarakatnya selalu berpikir mencari inovasi dalam mengatasi persoalan kehidupan akibat daerahnya tak subur, sehingga yang dibutuhkan bangso Batak adalah mengubah pola pikir agar bisa mendapatkan solusi atas persoalan-persoalan krusial yang sedang dihadapi.


Penakluk Ujung Dunia menampilkan tokoh yang berpikiran maju yang bertolak-belakang dengan masyarakatnya yang tradisional, dan kelahiran tokoh seperti ini erat kaitannya dengan sosok Bokor Hutasuhut yang mengikuti ayahnya berdakwa agama ke perkampungan-perkampungan untuk membuka pola pikir masyarakat.  Dalam novel Tanah Kesayangan Pantai Barat, tokoh-tokoh Bokor Hutasuhut identic sebagai manusia  yang berpikiran maju, selalu punya alternative atas persoalan yang dihadapi, dan keluar dari mainstream yang kuat dipengaruhi tradisi.  Setiap novel Bokor Hutasuhut menegaskan, selain pentingnya tanah bagi bangso Batak, juga yang sangat penting adalah mengubah pola pikir agar tidak menderita (karena beban tradisi menjadi japuurut dalam Penankluk Ujung dunia, atau dijajah Belanda dan Jepang dalam Tanah Kesayangan dan Pantai Barat) atau hidup miskin dan terbelakang.


2

 

Setiap kali saya  dan Bokor Hutasuhut bertemu, kami nyaris tidak pernah bicara tentang karya sastra. Kami selalu berbincang tentang pertarungan gagasan para sastrawan dan ikatan-ikatan kekeluargaan di antara kami, seperti merekatkan kembali silaturahmi yang memang selalu rekat meskipun kami tidak pernah tinggal di satu kota yang sama. Saya dan Bokor Hutasuhut bukan sekadar memiliki marga yang sama (Hutasuhut), tapi juga memiliki ikatan kekeluargaan yang kental, di mana Bokor Hutasuhut merupakan sepupu dari ayah kandung saya. Dengan sendirinya, saya merupakan anak dari kakak sepupu Bokor Hutasuhut, dan saya menghormati Bokor Hutasuhut sebagaimana saya menghormati ayah saya. Sebab itu, orang-orang yang saya kenali di dalam keluarga besar kami,  juga dikenali oleh Bokor Hutasuhut. Kami bercakap-cakap tentang orang-orang yang sama-sama kami kenali, menanyakan kabar dari orang-orang itu. 


Pada pertemuan yang saya singgung di atas, Bokor Hutasuhut bertanya tentang kabar Ali Mochtar Hoeta Soehoet (A.M. Hoeta Soehoet). A.M. Hoeta Soehoet adalah kakak (abang) kandung dari ayah saya. Ia seorang pahlawan nasional dari Sipirok, tahun 2001 meninggal dunia dan dimakamkan di Taman Nasional Kalibata, Jakarta Timur. Pada masa perang kemerdekaan Republik Indonesia, tepatnya saat Agresi Militer II, A.M. Hoeta Soehot menjadi Komandan Tentara Pelajar Indonesia di Padang Sidimpuan


Saat pemerintahan Republik Indonesia dipindahkan ke Bukit Tinggi pasca penangkapan Soekarno, Hatta, dan para founding father oleh Belanda, A.M. Hoeta Soehoet dibawa oleh Parada Harahap dari Padang Sidimpuan ke Bukit Tinggi untuk berjuang lewat pena (pers). Parada Harahap melakukan itu setelah mendapat mandat dari Mohammad Hatta untuk menerbitkan surat kabar di Bukit Tinggi, khusus mendukung PDRI, dan menggelorakan revolusi kemerdekaan.  Hubungan  Parada Harahap dengan M. Hatta sangat dekat, sudah terjalin sejak 1930 ketika Parada Harahap membawa rombongan para tokoh dari Indonesia (Mohammad Hatta salah satunya) ke Jepang untuk menemui Kaisar Hirohito.  Sejak itu, Parada Harahap selalu dukungan kepada Mohammad Hatta, termasuk tentang pentingnya mengemukakan gagasan dan pikirannya lewat tulisan yang disiarkan di media.


Setelah Jepang masuk,  Parada Harahap membawa A.M. Hoeta Soehoet ke Jakarta bersamaan dengan rombongan Soekarno-Hatta yang berangkat dari Bukit Tinggi ke Jakarta. Parada Harahap yang pernah ke Jepang bersama Hatta, memiliki hubungan dekat dengan pemerintah Jepang.  Posisi Parada Harahap  yang pada masa Belanda sudah menjadi pengusaha di bidang pers dan mendirikan komunitas pengusaha (cikal-bakal Kamar Dagang dan Industri /KADIN) di Jakarta, pada masa Jepang dipilih menjadi anggota pengurus BPUPKI yang dibentuk oleh Jepang.  Posisi Parada Harahap yang begitu penting membuat kegiatan bisnisnya tidak bisa dikerjakan sehingga butuh pendamping. A.M. Hoeta Soehoet yang dibawa dari Padang Sidimpuan mendapat penugasan untuk mengelola perusahaan pers milik Parada Harahap.


A.M. Hoeta Soehoet kemudian berkenalan dengan tokoh-tokoh pers yang ada dalam jaringan Parada Harahap pada masa itu yakni  para wartawan yang sebelumnya bekerja di Medan dan memutuskan ke Jakarta seperti  Zamiluddin Adinegoro, BM Diah Pohan, Adam Malik, dan banyak nama lagi. Ia mendapat kepercayaan dari Parada Harahap untuk mengembangkan sejumlah perusahaan pers yang dimilik Parada Harahap yang dikenal sebagai King of the Java Press

.

Saat itu, Parada Harahap yang sudah  mengembangkan cikal-bakal Kantor Berita Antara, sedang membangun sistem pers nasional dan mendirikan  sebuah lembaga pendidikan jurnalistik yang diberi nama Sekolah Tinggi Djurnalistik. Kelak, Sekolah Tinggi Djurnalistik berubah nama menjadi Sekolah Tinggi Publisistik,  dan sekarang bernama Institute Ilmu social dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta. Parada Harahap orang Pargarutan, tapi besar di Padang Sidimpuan. Pada masa muda, ia merantau dan bekerja sebagai pengelola media internal milik perkebunan  tembakau di Deli. Pekerjaan itu membuatnya berhadapan dengan realitas pahit dampak penjajahan. Perbudakan yang dikemas sebagai kuli di kebun tembakau, mendorong Parada Harahap untuk membongkar kekejian perbudakan yang dilakukan para kapitalis pemilik perkebunan tembakau. Ia keluar dari perkebunan dan bergabung dengan Benih Mardika, lalu menulis panjang tentang perbudakan di perkebunan. Tentu saja ia terkena delik pers dan Benih Mardika dibredel.


Situasi itu memaksanya kembali ke Padang sidimpuan dan mengelola majalah Pustaha yang didirikan oleh sutan Casayangan Soripada Harahap yang saat itu bekerja sebagai guru di Kweekschool Gunungsahari, kemudian ia mendirikan surat kabar Sinar Merdeka. Selama dua tahun tinggal di Padang Sidimpuan, dua belas kali Parada Harahap terkena delik pers dan berkali-kali masuk penjara. 



Sebagai orang Batak, Parada Harahap yang dekat dengan Soekarno-Hatta dan berteman dengan  M. Husni Thamrin di Dewan Rakyat (DPR RI sekarang), membentuk jaringan sesama orang Sumatra yang tujuannya merekrut generasi muda untuk digembleng menjadi tokoh perjuangan. Jaringan itu sudah ada sejak  1 Januari 1917 dan dimulai di Belanda oleh sejumlah mahasiswa asal Sumatra yang menamakan dirinya Jong Sumantra lalu memproklamirkan berdirinya Sumatra Sepakat.  Wadah pemuda/pelajar asal Sumatra untuk mendorong pembangunan di (pulau) Sumatra, ini dipelopori Sorip Tagor Harahap dengan wakil ketua Dahlan Abdoellah dan sekretaris merangkap bendahara Soetan Goenoeng Moelia. Pada bulan Desember 1917 di Batavia yang dimotori mahasiswa asal Sumatra di STOVIA merespon positif rekan-rekan mereka di Belanda dengan mendirikan wadah yang sama yang diberi nama Jong Sumatranen Bond. Ketua adalah T. Mansoer, wakil ketua Abdoel Moenir Nasoetion dan sekretaris M. Amir.  



Parada Harahap masuk dalam wadah Sumatra Sepakat sejak pertama kali menggelar kongres di Padang.  Parada Harahap datang sebagai wartawan dari Padang Sidimpuan dan berkenalan dengan jaringan perkawanan pemuda asal Sumatra ini, termasuk juga dengan Mohammad Hatta yang waktu itu baru selesai belajar.  Ketika pindah ke Jakarta, jaringan Sumatra Sepakat ini dipakai untuk merekrut anak-anak muda asal Sumatra dan mendorong mereka menjadi pejuang yang berjuang lewat pers. Parada Harahap mendapat dukungan dari Sutan Casayangan Soripada Harahap, Zamiluddin Adinegoro, Armijn Pane, Sanusi Pane, Amir Sjarifuddin Harahap, Adam Malik, dan juga para penggagas Soempah Pemoeda tahun 1928. 



Beberapa nama yang jadi tokoh pers yang pernah diajari Parada Harahap seperti Sakti Alamsyah Lubis (seorang sastrawan dan pendiri Pikiran Rakyat), Mochtar Lubis (seorang sastrawan dan pendiri Harian Indonesia Raya), Adam Malik Batubara (kemudian mengelola Kantor Berita Antara), BM Diah Pohan (pendiri Harian Merdeka), dan A.M. Hoeta Soehoet (pengelola akademi wartawan yang bernama Perguruan Tinggi Djurnalistik/PTD) dan ikut mengelola Serikat Perusahaan  Suratkabar Indonesia (SPSI).  Dari sektor hulu sampai hilir telah dibangun Parada Harahap, dan tahun 1959 dia meninggal dunia setelah menggelar acara peringatan Soempah Pemoeda 1928 untuk pertama kalinya pada 28 Oktober 1953.  



Bokor Hutasuhut bertanya tentang kabar A.M. Hoeta Soehot karena saya dekat dengan A.M. Hoeta Soehoet.  Saya pernah menjadi asisten pribadi A.M. Hoeta Soehoet yang bekerja sebagai juru tulis sambil berkuliah di IISIP Jakarta. Dengan A.M. Hota Soehoet saya sering berdiskusi tentang dunia tulis menulis, kehidupan pers, dan pentingnya pendidikan keprofesian jurnalis. Bagi saya, ia seorang ayah sekaligus guru yang unik. Sama seperti Bokor Hutasuhut. 



3



Ketika Bokor Hutasuhut hijrah dari Medan ke Jakarta tahun 1962 (dalam usia 28 tahun dan belum menikah), orang pertama yang didatanginya adalah A.M. Hoeta Soehoet. Saat itu Bokor Hutasuhut datang sebagai sastrawan, penulis puisi dan cerpen yang sudah disiarkan di sejumlah media cetak seperti Mimbar Indonesia, Arena (Medan), Budaya (Yogjakarta), Indonesia, Konfrontasi, Kisah, Cerita, Cerpen, dan lain sebagainya.



Bokor Hutasuhut sudah menghasilkan novel berjudul Tanah Kesayangan. Nama-nama media yang mempublikasikan karya-karya Bokor Hutasuhut merupakan media mainstream saat itu, mennjadi patron pada waktu itu, di mana tak semua pengarang mampu menulis dan disiarkan di media-media tersebut. Pada masa itu, dekade 1950-an, sedang terjadi booming sastra majalah karena tidak ada majalah yang terbit tanpa ruang sastra. Para sastrawan juga menjadi pengelola media-media tersebut meskipun media itu diperuntukkan untuk umum seperti Mimbar Indonesia



Di kampus Perguruan Tinggi Publisistik (PTP) yang sebelumnya bernama Perguruan Tinggi Djurnalistik (PTD) itu, dipelajari tentang perusahaan penerbitan pers atau segala hal tentang dunia jurnalistik. A.M. Hoeta Soehoet dan para pengajar berasal dari kalangan pengelola media cetak dan tokoh-tokoh pers nasional. Pada waktu itu, sebagian besar tokoh pers atau pengelola media cetak berasal dari Sumatra. Para perantau dari Sumatra terkenal luas bukan saja sebagai wartawan cum sastrawan, tetapi juga para intelektual yang ikut berperan dalam dinamika perpolitikan nasional. 



A.M. Hoeta Soehot memberi kesempatan kepada para perantau asal Sumatra yang memiliki bakat menulis untuk disekolahkan secara gratis di kampus tersebut, atau sistem bayar uang kuliah setelah lulus karena itulah amanat Parada Harahap pada masa hidupnya saat membangun akademi kewartawanan. Setelah lulus, mereka juga  diberi kesempatan menjadi dosen atau pengajar.  Salah satunya adalah Ras Siregar—banyak menulis cerpen di Horison-- yang juga alumni perguruan tinggi tersebut. 



Bokor Hutasuhut datang menemui A.M. Hoeta Soehoet ke Jakarta dan ditawari untuk sekolah. Ia menolak menjadi mahasiswa mengingat usianya sudah 28 tahun, dan ia bilang: “Kuliah di Perguruan Tinggi Djurnalistik agar bisa bekerja sebagai wartawan, sementara saya sudah pernah jadi wartawan tanpa sekolah di sana.” 



Meskipun tidak berkuliah di PTD, Bokor Hutasuhut terus menjalin silaturahmi dengan A.M. Hoeta Soehoet, sementara ia mulai bekerja sebagai wartawan bersama kawan-kawan sastrawan yang sudah mengenalnya lewat cerpen-cerpennya yang muncul pada decade 1950-an. Bokor Hutasuhut sering berkunjung ke kampus, bersilaturahmi dengan A.M. Hoeta Soehoet. Hubungan kekerabatan (persaudaraan) di antara mereka berjalin-kelindan, di samping mereka dipertemukan oleh minat yang sama terhadap karya sastra, juga karena jaringan perkawanan di antara mereka sangat kuat sebagai orang (perantau) yang datang dari Tapanuli. 



Modal sebagai pengarang cerpen yang produktif membuat Bokor Hutasuhut cepat masuk dalam pergaulan kaum intelektual di Jakarta, apalagi Bokor Hutasuhut tetap membawa latar-belakang budayanya dalam pergaulan di lingkungan kaum intelektual di Jakarta. Dia akrab dengan H.B. Jassin, yang ketika itu menjadi simbol pembaiat para sastrawan, dan Jassin pernah tinggal di Medan. Dia  bergaul dengan Wiratmo Soekito yang seorang pemikir dengan gagasan-gagasan. Di luar dua nama tersebut, Bokor Hutasuhut berteman akrab dan menjalin komunikasi yang intens dengan para perantau asal Sumatra yang ada di Jakarta, juga dengan sesame pengarang yang seangkatan dengan dirinya seperti Gajus Siagian, Mohammad Diponegoro, Trisno Sumarjo, Ajip Rosidi, WS Rendra, Taufiq Ismail, Goenawan Mohamad, dan lain sebagainya.  



Dari pergaulannya yang intens, Bokor Hutasuhut begitu mudah diterima siapa saja, dan ia ada dalam jaringan pergaulan orang-orang dari Tapanuli bagian Selatan yang masih melanjutkan jaringan lama. Jaringan ini terdiri dari para tokoh yang menjadi pejabat negara, baik di birokrasi pemerintahan, di lingkungan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), maupun di lingkungan organisasi dan partai politik. 



Di awal dekade 1960-an,  orang-orang masih mendidih oleh api revolusi dan antineokolonialis,  bergulat soal mencari identitas dan terlibat intrik-aksi politik zaman Demokrasi Terpimpin. Bokor Hutasuhut juga sangat dekat dengan generasi muda penulis, para mahasiswa UI yang tertarik dengan dunia intelektual dan sastra seperti Goenawan Mohamad. “Goenawan Mohamad sering ke rumah di dan berdiskusi. Waktu itu dia masih mahasiswa,” kata Bokor Hutasuhut. Dan, para mahasiswa dekat dengan Bokor Hutasuhut karena ia punya jaringan yang kuat di tubuh militer, di mana hampir sebagian besar tokoh-tokoh militer pada decade 1960-an berasal dari Sumatra.



Pada masa Demokrasi Terpimpin, militer memiliki tokoh-tokoh yang punya peran politik dan  melakukan intervensi dalam politik. Tokoh-tokoh militer ini melakukan konsolidasi kekuasaan, mempromosikan integrasi nasional, membangun dukungan massa bagi pemerintahan yang notabene juga merupakan legitimasi bagi peran politik militer, membangun institusi-institusi politik dan menjadi broker politik. Artinya,  selain membangun institusi-institusi politik yang baru, militer juga membubarkan, menghapuskan atau memperlemah institusi-institusi politik lama yang dianggap dapat membahayakan posisi dan peran mereka dalam politik. 



Tokoh besar militer saat itu Jenderal Besar Ahmad Haris Nasution (A.H. Nasoetion) – salah seorang generasi muda yang didorong oleh para intelektual asal Sumatra untuk naik sebagai tokoh nasional pada dekade 1940-an.  Namun, kekuasaan yang besar di militer dan politik membuat A.H. Nasution berseberangan dengan generasi asal Sumatera yang ada di internal militer.  A.H. Nasution sangat berkuasa sebagai militer sekaligus politisi pasca Tahi Bonar Simatupang pensiun dan banyak menghabiskan waktu SSKAD (Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat, sekarang Seskoad). 



Di lingkungan para intelektual perantau asal Sumatera, terutama perantau asal Tapanuli bagian Selatan, A.H. Nasution kurang mendapat tempat akibat pertikaian dalam internal militer yang menyebabkan Zulkifli Lubis tersingkir sebagai Kepala Staf Angkatan Darat. Kelak, jaringan Zulkifli Lubis terbentuk di internal militer dan berimbas pada para intelektual di luar militer. Salah satu pendukung Zulkifli Lubis di luar militer adalah Mochtar Lubis, yang saat itu memiliki hubungan dekat dengan Perdana Menteri Burhanuddin Harahap. 



Bokor Hutasuhut dekat dengan semua pihak, dan acap menjalin silaturahmi dengan mereka.  Bertahun-tahun hidup sebagai wartawan, bergiat di bidang organisasi kepengarangan, dan terlibat dalam perkawanan yang luas dengan kalangan wartawan, militer, dan intelektual di Jakarta membuat waktu Bokor Hutasuhut untuk menulis karya sastra semakin berkurang. Produktivitasnya dalam menghasilkan karya sastra (prosa, terutama cerpen) semakin berkurang.  Bahkan, ia berhenti sama sekali menulis puisi. Waktunya semakin banyak terkuras setelah bekerja di Yayasan Sastra (penerbit majalah Sastra), kemudian bekerja di Balai Pustaka. 



Selama bekerja di Balai Pustaka, Bokor Hutasuhut semakin banyak mengenal para pengarang. Hubungan perkawanan yang begitu dekat kemudian mendorong Bokor Hutasuhut untuk membangun (membentuk) perkumpulan pengaran Indonesia. Di sela-sela kesibukan itu, Bokor Hutasuhut menulis novelnya, Penakluk Udjung Dunia. Setelah novel itu terbit dan mendapat banyak pujian, Bokor Hutasuhut menerbitkan novel keduanya, Tanah Kesayangan



Bekerja di Balai Pustaka, berorganisasi dengan sesame pengarang, terlibat intrik-intrik politik dampak besarnya campur-tangan militer dalam kehidupan social-politik, membuat Bokor Hutasuhut menyadari pentingnya para pengarang memiliki sikap tegas dalam kreativitas. Pertarungan-pertarungan gagasan antara para pengarang mulai muncul akibat sikap politik Presiden Soekarno yang tidak seperti diharapkan banyak pihak, sehingga ada tarik-menarik paradigma pemikiran dalam kesusastraan antara sastrawan terlibat politik dengan tidak terlibat politik. Satu per satu media cetak tutup akibat kebijakan pembredelan oleh pemerintah Orde Lama, yang lainnya tutup karena gagasannya berbeda dengan dinamika politik yang diwarnai pemikiran Presiden Soekarno.   



Wiratmo Sukito, yang ketika pulang dari Belanda tahun 1957,  mengawali karier kepenulisan sebagai penyair di Mimbar Indonesia. Belakangan, setelah menjadi penyiar Radio Republik Indonesia (RRI) dan sering diminta mengomentari peristiwa ta luar negeri tentang Eropa,  ia lebih banyak menjadi penulis esai dan memperkenalkan pemikiran-pemikiran filsafat dalam tulisan-tulisannya. Sosoknya lebih dikenal sebagai budayawan, pemikir, dan gemar menggelar diskusi (di rumahnya) untuk menyikapi persoalan-persoalan nasional, terutama terkait kebijakan pemerintah mengenai kebudayaan nasional.  



Bokor Hutasuhut sering berdiskusi di rumah Wiratmo Sukito. Di dalam diskusi, Wiratmo acap menyampaikan kritik terhadap kebijakan Presiden Soekarno  dan politik kebudayaannya yang didukung Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Kritik-kritik Wiratmo Sukito ini disampaikan juga dalam bentuk esai, sehingga terjadi benturan paham di kalangan pengarang yang membuat situasi social-politik menjadi memanas. Kalangan intelektual yang berbasis kebudayaan (sastra), para sastrawan cum jurnalis, terpolarisasi ke dalam kelompok-kelompok yang pro-Presiden Soekarno dan dengan sendirinya mendukung revolusi dengan kelompok-kelompok yang pro-gagasan Wiratmo Sukito yang kemudian disebut anti-revolusi.



Puncaknya terjadi pada 17 Agustus 1963 ketika Manifes Kebudayaan diteken dan diumumkan. Ada 16 penulis, 3 pelukis, dan 1 komponis memberikan tanda tangan dukungan mereka. Belakangan, kaum kiri dan sayap kebudayaannya memplesetkan Manifes Kebudayaan dengan akronim Manikebu—istilah peyoratif yang mengacu pada sperma kerbau dalam bahasa Jawa. Bokor Hutasuhut salah seorang penandatangan Manifestasi Kebudayaan itu.



Manifestasi Kebudayaan tercatat bukan hanya sebagai bagian dari sejarah sastra di negeri ini, tetapi juga merupakan bukti bahwa sastra dan politik selalu sejalan di negeri ini. Para sastrawan yang ada di kubu Presiden Soekarno menolak Manifestasi Kebudayaan dan mendorong Presiden Soekarno untuk mencabut Manifestasi Kebudayaan. Namun, Wiratmo Sukito dan para penandatangan Manifestasi Kebudayaan bergeming mempertahankannya. 



Kondisi ini menyebabkan para pengarang yang berpihak kepada Manifestasi Kebudayaan tidak lagi mendapat tempat di mana-mana. Wiratmo Soekito dipecat dari RRI, Jassin ditolak mengajar di UI, dan karya para pengarang dibakar dengan tuduhan anti-revolusi. Sementara Bokor Hutasuhut sendiri mulai tidak betah di Balai Pustaka karena waktunya untuk bekerja tersedot untuk urusan mengatasi persoalan-persoalan yang timbul pasca pengumuman Manifestasi Kebudayaan. Persoalan semakin pelik ketika ABRI juga mendukung Presiden Soekarno dan Lekra, sehingga HB Jassin mendorong Bokor Hutasuhut untuk melakukan pendekataan terhadap militer. 



Gagasan muncul dengan menggelar sebuah kegiatan untuk menguatkan posisi pengarang dan kemudian disepakati Konferensi Karyawan Pengarang se-Indonesia (KKPI) di Jakarta, di mana para penandatangan Manifestasi Kebudayaan terlibat untuk menghubungi pengarang-pengarang di seluruh Indonesia. Sebanyak 450 pengarang menyatakan siap hadir, dan respek yang bagus dari para pengarang ini mengubah situasi, membuat ABRI melalui Menteri Pertahanan A.H. Nasution mendukung KKPI.  Bokor Hutasuhut mengatakan, KKPI terselenggara berkat dukungan Angkatan Darat. 



Pada 7 Maret 1964 peserta KKPI mengumumkan Ikrar Pengarang Indonesia, yang justru membuat pengarang di kubu Presiden Soekarno semakin  marah. Pada  8 Mei 1964, Presiden Sukarno menyatakan Manifes Kebudayaan sebagai gerakan terlarang. Tapi, setelah pecah peristiwa Gerakan 30 September 1965, kondisi berbalik. Cuma, peristiwa Manifestasi Kebudayaan versus Lekra itu menghancurkan banyak hal, terutama perkawanan di antara sesama pengarang. Kondisi ini banyak mempengaruhi proses kreatif. Wiratmo Sukito hamper tidak pernah muncul dalam kegiatan kebudayaan, sementara Bokor Hutasuhut mulai fokus menulis novel dan menerbitkan buku. 



Pasca peristiwa 1965,  Bokor Hutasuhut menulis kembali cerita bersambunganya, Pantai Barat,  yang pernah terbit di majalah Sastra. Dia juga menyusun ulang dua belas cerita pendekkan untuk menjadi buku dan diberi judul, Menyilang ke Utara. Manuskrip kumpulan cerita pendek Menyilang ke Utara dikirimkan ke sejumlah penerbit buku, hampir bersamaan dengan manuskrip novel Pantai Barat, dikirim ke berbagai penerbit buku. Bahkan, rekan-rekan Bokor Hutasuhut seperti HB Jassin, Ras Siregar, A.M. Hoeta Soehoet, dan banyak lagi sudah berusaha ikut mempromosikan manuskrip-manuskrip itu. Namun, tidak ada penerbit yang bersedia menerbitkannya karena kondisi perekonomian nasional waktu itu sedang kurang bagus. 



Menghadapi realitas kehidupan pasca peristiwa 1965 yang mengorbankan banyak hal, terutama perkawanan antarpengarang,  Bokor Hutasuhut  mulai berpikir untuk mencari sumber penghasilan lain. Namun, pertama-tama dia harus menikah untuk membangun keluarga. Bokor Hutasuhut kemudian merambah dunia usaha di bidang lain dan akhirnya tahun 1968 dia pulang kampung ke Sipirok untuk menikah dengan D. Sari Hafni Siregar asal Desa Parsorminan, Kecamatan Sipirok. Dari pernikahan ini, Bokor Hutasuhut dikarunia empat orang anak: Irma Bulan Hutasuhut, Samsul Wahidin Hutasuhut, Tama Alamsyah Hutasuhut, dan  Muhammad Layan.


4



Sejak menikah, nama Bokor Hutasuhut dan karyanya hampir tidak pernah muncul di media. Ketika majalah Horison diterbitkan yang menjadi pengganti sejumlah majalah yang mati pada masa Orde Lama, pengarang-pengarang lama yang seangkatan dengan Bokor Hutasuhut tetap berkarya, sementara pengarang baru bermunculan. Karya Bokor Hutasuhut sendiri hampir tidak pernah muncul selama dekade 1970-an dan 1980-an, meskipun nama Bokor Hutasuhut selalu disebut bila ada yang menulis tentang sejarah Manifestasi Kebudayaan atau sejarah para pengarang yang muncul di era 1950-an. 



Selama “menghilang” dari dunia kreatif berkesusastraan, Bokor Hutasuhut menjadi pengusaha sembari mengumpulkan cerpen-cerpennya yang pernah disiarkan di media cetak. Manuskrip-manuskrip kumpulan cerita pendek Bokor Hutasuhut seperti Menyilang ke Utara, Daerah Toba Danauku Sayang, Pecahan Yang Menggumpal,  dan Di Atas Sepeda. Sementara novelnya Pantai Barat, mulai menemukan penerbit. 



Adalah para sastrawan Sumatra Utara pada decade 1980-an menjalin  hubungan perkawanan dengan sastrawan Malaysia yang salah satunya dipelopori A. Rahim Qahar. Dalam percakapan saya dengan almarhum A. Rahim Qahar, dia menceritakan bahwa para sastrawan Sumatra Utara menawarkan manuskrip Pantai Barat ke penerbit di Malaysia. Salah satu penerbit yang tertarik adalah  Penerbit Marwillis Publisher, Selangor, Malaysia. 



Penerbit ini bermaksud menerbitkan manuskrip Pantai Barat dan beberapa novel Bokor Hutasuhut lainnya seperti Penakluk Ujung Dunia dan Tanah Kesayangan.  Namun, untuk Pantai Barat, penerbit memberi syarat ada revisi dari pengarang. Revisi tersebut dimaksudkan untuk menyesuaikan antara novel yang berlatar Tanah Batak yang mayoritas Kristen dengan pembaca Malaysia yang beragama Islam. Kesepakatan didapat, dengan mengganti isu gereja dengan bunyi loncengnya menjadi masjid dengan suara azannya. Jadilah novel ini diterbitkan pada tahun 1988 dengan judul tetap Pantai Barat



Setelah novel Pantai Barat terbit, Bokor Hutasuhut kembali menulis untuk koran-koran di Medan. Namun, keterbatasan waktu membuatnya tidak seproduktif sebelumnya. Bahkan, pada dekade 1990-an, Bokor Hutasuhut mengirimkan cerpennya ke majalah Horison, dan itu menjadi karya satu-satunya dan terakhir yang diterbitkan di majalah sastra tersebut. 



Pada dekade 1980-an Bokor Hutasuhut mulai sering keluar rumah dan bertemu dengan kawan-kawan sastrawan. Waktu itu, dari Sumatra Utara muncul banyak nama sastrawan yang mengisi majalah sastra Horison seperti Sori Siregar, Pamusuk Eneste, Hamsad Rangkuti, B.Y. Tand, Zainuddin Tamir Koto, Damiri Mahmud, A. Rahim Qahar, Rusli A. Malem, AA Bungga, Herman KS, dan banyak nama lagi termasuk Saut Mangapul Situmorang—mahasiswa Universitas Sumatra Utara yang kelak memakai nama Saut Situmorang.  



Munculnya   sastrawan-sastrawan asal Sumatra Utara di majalah Horison membuat Sumatra Utara menjadi salah satu kiblat perkembangan karya sastra di Tanah Air. Kondisi ini juga menandakan bahwa regenerasi pengarang terus terjadi di Sumatra Utara,  yang sejarah awalnya sudah dimulai sejak era Merari Siregar (Sipirok), Armijn Pane dan Sanusi Pane (Sipirok), Amir Hamzah (Tanjung Pura), Chairil Anwar (Medan), Sitor Situmorang (Samosir), Bakri Siregar (Medan), Matu Mona (Medan), Bahrum Rangkuti (Medan), Bokor Hutasuhut (Balige), dan banyak nama lainnya. 



Keikutsertaan Bokor Hutasuhut kembali ke dunia sastra setelah menghilang hampir selama 1970-an, menambah gairah kesusastraan di Sumatra Utara.   Mulai decade 1990-an Bokor Hutasuhut banyak terlibat dalam kegiatan kebudayaan, terutama berkaitan dengan kebudayaan tradisional Batak beradat Angkola. Dia banyak terlibat dalam pesta adat masyarakat Angkola di Medan, disamping terus terlibat dalam kegiatan kesenian dan kebudayaan. 



Pada pertengahan 1990, Bokor Hutasuhut pernah mencoba dunia film dengan mengubah novel Azab dan Sengsara karya Merari Siregar menjadi skenario. Disutradarai oleh Edward Pesta Sirait, Bokor Hutasuhut juga ikut mensurvei lokasi shooting ke Sipirok, Padang Sidimpuan, dan Gunungtua. Film yang dipersiapkan untuk serial di RCTI itu, ternyata tidak pernah disiarkan di RCTI. Sinetron televise itu kemudian dibeli salah satu stasiun televise di Malaysia dan disiarkan di sana secara serial. 



Setelah pembuatan film Azab dan Sengsara itu Bokor Hutasuhut tidak lagi terlibat dengan seni sinematografi dan lebih banyak dalam kegiatan tradisi budaya berupa acara-acara adat  Angkola di Medan. Saya beberapa kali bertemu dengan Beliau ketika ada acara adat-istiada di Medan. Setiap pertemuan, kami lebih banyak bicara tentang keluarga besar kami. 



Keluarga besar marga Hutasuhut yang sebetulnya lebih banyak berada di Tapanuli bagian Selatan, tetapi Bokor Hutasuhut justru ada di Balige. Hal ini terjadi dalam rentang sejarah yang panjang. Keluarga besar marga Hutasuhut merupakan keturunan dari Patuan Soripada Dipuyung, penguasa atas wilayah pesisir Barat di Pulau Sumatra yang berpusat di Tabuyung (sekarang Natal). Negeri Tabuyung ini merupakan bagian dari sistem politik konfederasi pada masa Maharajadiraja Adityawarman berkuasa di Kerajaan Pagaruyung, yang dipengaruhi ajaran Hindu-Buddha. 



Ketika Kesultanan Aceh menguasai Pulau Sumatra, kerajaan-kerajaan konfederasi yang menjadi bagian dari Kerajaan Pagaruyung, perlahan-lahan mandiri. Kerajaan Pagaruyung kemudian berubah menjadi Kesultanan Islam. Kerajaan-kerajaan konfederasi membentuk sistem sendiri, membangun negerinya sendiri dengan ajaran Kitab Suci Al Quran, dan menolak berada di bawah tekanan penjajah.



Kerajaan Tabuyung yang beragama Islam dan menguasai pelabuhan-pelabuhan kecil sepanjang pantai Barat seperti Tabuyung, Batu Mundom, dan Natal, serta menjadikan pelabuhan-pelabuhan itu sebagai pusat perdagangan, tetap bekerja sama dengan Kesultanan Aceh dalam bidang perdagangan dan penyebaran agama Islam. Ketika VOC mengusir Kesultanan Aceh dan menghapus pengaruhnya di Sumatra Tengah, Kerajaan Tabuyung  tetap menjalin hubungan dengan Kesultanan Aceh. Pengaruh Islam sangat kuat di pesisir pantai Barat dan Kesultanan Aceh bertahan di sana, sementara Kerajaan Malaka berkuasa di pesisir pantai Timur.



Kelak, pada abad ke-19, Kerajaan Pagaruyung yang berpihak kepada kolonialisme, akhirnya pecah. Muncul kekuatan rakyat, yang disebut padri, yang kerjanya berdagang dan menguasai sumber-sumber produksi (hasil panen) sembari menyebarkan agama Islam. Rakyat padri tidak percaya lagi kepada sistem-sistem tradisional yang diwariskan dari leluhur Kerajaan Pagaruyung, lalu membangun sistem yang didasarkan kepada ajaran agama Islam. Selain berdagang (pekerjaan yang dilakukan para nabi dalam agama Islam), rakyat padri menyebarkan agama Islam lewat syiar yang dilakukan keliling kampung-kampung dan pendidikan agama Islam.  



Di dalam keluarga besar marga Hutasuhut, ada banyak Tuan Syeikh (kiyai kalau di Jawa) dan melakukan kerja berdagang keliling sambil syiar agama Islam. Ada Syeik Idris Hutasuhut yang menjadi pengurus masjid di Mekkah, dan anak keturunannya tinggal di Mekkah sejak abad ke-20. Anak keturunannya menjadikan Arab Saudi sebagai rumah yang lain. 



H. Abdul Manaf Hutasuhut gelar Mangaraja Gende Hutasuhut, ayah dari Bokor Hutasuhut, merupakan generasi nomor 12, anak keturunan dari keluarga besar marga Hutasuhut yang leluhurnya pindah dari bonabulu Huta Layan di Padang Sidimpuan ke Sipirok. Bokor Hutasuhut sendiri merupakan anak ke-7 dari delapan orang bersaudara.



Sebagai keturunan masyarakat yang melakukan kegiatan berdagang sambil menyiarkan agama Islam, Mangaraja Gende Hutasuhut juga melakukan kegiatan serupa berdagang sambil menyiarkan agama Islam. Memilih melakukan kegiatan ke Utara, dan akhirnya sampai ke Balige.  Ada juga anak keturunan marga Hutasuhut yang sampai ke Siantar, Tarutung, dan kota-kota lain di Tapanuli bagian Utara. 



Keluarga besar Bokor Hutasuhut di Balige tidak pernah kehilangan korespondensi dengan saudara-saudaranya di Sipirok. Salah satu buktinya karena Bokor Hutasuhut memilih menikahi anak gadis asal Sipirok yang bermarga Siregar.  Di tangan Bokor Hutasuhut, persaudaraan semarga itu semakin erat. Silaturahmi adalah kegemaran Bokor Hutasuhut. Kepada saya, Bokor Hutasuhut sering mengatakan agar saya mengenali semua orang yang bermarga Hutasuhut dan saya melakukannya. 



Pada Jumat, 4 Agustus 2017, Bokor Hutasuhut meninggal dunia. Saat itu saya sedang di Lampung. Pada hari Minggu, 6 Agustus 2017, saya menulis kenangan tentang Bokor Hutasuhut di Waspada.   Sambil menulis esai di Waspada itu, saya ingat pesan Bokor Hutasuhut tentang karya-karyanya yang betebaran di berbagai media. “Saya memberi izin untuk mengumpulkan semuanya dan menerbitkannya jadi buku.  Sebagian besar ada di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin,” katanya. 



Bagi saya pribadi, sosok Bokor Hutasuhut yang punya sejarah sebagai orang Angkola, lahir sebagai orang Toba dan menulis tentang masyarakat Toba, lalu di akhir hayatnya menjadi tokoh adat masyarakat Angkola, merupakan bukti bahwa Batak adalah bangsa yang memiliki banyak kebudayaan. Dia mengajarkan kepada saya, bahwa perbedaan antara manusia yang ada saat ini, baik soal agama, ras, suku, dan lain sebagainya, bukan perkara yang harus dipersoalankan karena itu justru sebuah

kemewahan dalam kehidupan.



Tulisan ini disampaikan Budi Hatees dalam acara Tribute to Bokor Hutasuhut, salah satu kegiatan yang digelar dalam rangka Balige Witer Festival tahun 2023


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad