Sekolah Menulis Padangsidimpuan Menggelar Coaching Clinic Menulis

Penulis: Dian Maas Saputra


Coaching Clinic Menulis ditujukan untuk pelajar SD, SMP, SMA (sederajat). Program yang digelar Sinar Tabgsel bersama Sekolah Menulis Padangsidimpuan ini sudah berjalan sejak tahun 2017. Ketika pandemi Covid-19, program ini berhenti sampai 2020. 

Mulai 2021, program Coaching Clinic berupa pelatihan yang berfokus pada peningkatan keterampilan menulis,  dilaksanakan dalam bentuk road show ke lingkungan sekolah dan perguruan tinggi di wilayah Tapanuli bagian Selatan (Tabgsel). 

Coaching Clinic Munlis dirancang untuk memberikan bimbingan dan umpan balik secara individual kepada para pemula dalam berbagai jenis tulisan seperti cerpen, puisi, karya jurnalistik, esai, atau karya tulis lainnya. 

Kegiatan ini terdiri dari 5 pertemuan.  Masing-masing pertemuan akan memfokuskan pada satu pembahasan: (1)membahas tentang berbahasa Indonesia yang baik dalam menulis; (2)Menulis  Prosa Cerita pendek; (3)Menulis Puisi; (4)Menulis Karya Jurnalistik;  (5)Menulis Opini/Kolom untuk Media Massa; dan (6)Menulis  Artikel Ilmiah. 

Setiap pertemuan berlangsung selama dua jam secara tatap muka. Selama dua jam, waktu akan dibagi satu jam untuk praktek bimbingan menulis. Setiap peserta pelatihan akan dibimbing teknik menulis hingga mampu menghasilkan karya tulis. 

Pada pertemuan ke-lima,  setiap peserta pelatihan sudah memiliki karya yang siap untuk diterbitkan menjadi buku. 

TUJUAN COACHING CLINIC

1. Meningkatkan Keterampilan Menulis:

Coaching Clinic membantu peserta pelatihan mengembangkan teknik menulis yang efektif: memilih ide, menggambar (membuat narasi) dengan kata,  mengembangkan argumen, dan menggunakan bahasa yang tepat. 

2. Memberikan Umpan Balik Konstruktif:

Peserta Coaching Clinic mendapatkan umpan balik langsung atau tanggapan dari instruktur mengenai kekuatan dan kelemahan tulisan mereka, serta saran untuk perbaikan. 

3. Meningkatkan Motivasi dan Kepercayaan Diri:

Dukungan dan bimbingan dari pelatih dapat meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri penulis dalam berkarya. 

4. Mempercepat Proses Penulisan:

Dengan mendapatkan bimbingan yang terarah, peserta pelatihan dapat mengatasi hambatan dalam proses penulisan dan menyelesaikan karya mereka lebih cepat. 

5. Mendapatkan Bimbingan Secara Online

Selesai lima pertemuan, peserta Coaching Clinic tetap akan mendapat bimbingan dari instruktur selama berkaitan dengan kerja-kerja kepenulisan.  Instruktur akan menjadi "pendamping" peserta Coaching Clinic dalam menghasilkan karya tulis.


BENTUK COACHING CLINIC

Sesi Tatap Muka:

Coaching Clinic melibatkan pertemuan antara instruktur dengan peserta secara langsung, di mana peserta dapat berkonsultasi dan mendapatkan umpan balik. 

Sesi Online:

Dapat dilakukan melalui video conference atau platform online lainnya, memungkinkan peserta dari berbagai lokasi untuk mengikuti pelatihan. 

Interaktif:

Coaching Clinic melibatkan diskusi interaktif, latihan menulis, dan sesi tanya jawab untuk memaksimalkan pemahaman peserta. 

Kelompok atau Individu:

Coaching Clinic dalam kelompok kecil, sementara yang lain menyediakan sesi individu untuk fokus pada kebutuhan spesifik peserta. 


MANFAAT COCHING CLINIC

1. Meningkatkan Kualitas Tulisan:

Peserta akan belajar cara menulis dengan lebih baik, jelas, dan efektif. 

2. Mempercepat Proses Produksi:

Dengan bimbingan yang tepat, penulis dapat menyelesaikan tulisan mereka lebih cepat. 

3. Membangun Jaringan:

Beberapa coaching clinic melibatkan pertemuan dengan penulis lain, yang dapat memperluas jaringan profesional. 

4. Meningkatkan Kepercayaan Diri:

Dengan umpan balik yang positif dan dukungan dari pelatih, penulis akan merasa lebih percaya diri dalam kemampuan mereka. 

INSTRUKTUR

Budi Hutasuhut, lahir dengan nama Budi P Hutasuhut. Sarjana ilmu komunikasi, pascasarjana ilmu jurnalistik, dan pascasarjana manajemen komunikasi.  Menulis buku-buku jurnalisme, buku sastra, melakukan penelitian kebudayaan, dan menjadi instruktur pelatihan menulis di berbagai kota di Indonesia. 

Selama 2000-2008 mengajarkan ilmu komunikasi dan terapannya di Universitas Lampung, Universitas Bandar Lampung, IAIN Radin Intan, Universitas Saburai, dan menjadi konsultan di bidang media. Pernah bekerja di Grup Media Indonesia sebagai wartawan dengan jabatan terakhir Kepala Penelitian dan Pengembangan (Ombudsman) Harian Umum Lampung Post, bekerja di Koran Lampung,  dan bekerja di Harian Lampung Ekspress.  

Saat ini mengelola sejumlah media online.

Dian Maas Saputra kelahiran 1995.  Ia seorang trainer outbond, akting, dan telah membintangi dua film, Cintaku di Bumi Angkola dan Batang Ayumi.  Bekerja sebagai peneliti.  Ia juga Direktur Sekolah Menulis Padangsidimpuan.

Ahmad Rusli Harahap, M.Hum seorang pengajar bahasa di UIN Syuhada, Aufaroyan Padangsidimpuan,  dan sejumlah perguruan tinggi swasta di Sumatra Utara.  Ia menjadi pengelola jurnal ilmu pengetahuan SHINTA 4, melakukan penelitian tentang masalah pendidikan yang disiarkan di sejumlah jurnal ilmu pengetahuan.

Sarjana pendidikan dari Sekolah Tinggi Ilmu Pendidikan dan Keguruan (STKIP) Tapanuli Selatan ini, dan pascasarjana dari Universitas Andalas, ini dikenal luas sebagai aktivis yang menjadi ketua dari organisasi internal Partai Gerindra. 

Efry Nasaktion kelahiran Muarasipongi dengan nama asli Sepriadi Nasaktion. Sarjana pendidikan dari STKIP Tapanuli Selatan ini, lebih dikenal sebagai penyair. Ia telah diundang sebagai peserta dalam berbagai festival penyair. Ia juga menjadi juri FLS3N Padangsidimpuan, dan membuka kelas puisi secara online. 


CARA MENGIKUTI COACHING CLINIC

Coaching Clinic Menulis tahun 2025 diperuntukkan kepada siswa SD, SMP, SMA dan sederajat. Para pengelola sekolah bisa menghubungi  panitia Coaching Clinic Menulis yakni pengelola Sekolah Menulis Padangsidimpuan dan Sinar Tabagsel melalui nomor kontak 0838 5218 0888. Penyelenggara Coaching Clinic Menulis akan mendiskusikan untuk menentukan jadwal dan pelatihan apa saja yang diinginkan sekolah. 

Pihak pengelola sekolah yang menentukan jadwal pelatihan, jumlah siswa yang ikut, dan lokasi pelatihan. Penyelenggara menyediakan materi, metode pelatihan, dan instruktur yang akan terlibat dalam Coaching Clinic.  

PILIH KELAS MENULIS



Siswa SMP IT Darul Hasan Padangsidimpuan Gelar Coaching Clinic Menulis

Ahmad Rusli Harahap, M.Hum, sedang memaparkan materi tentang Bahasa Indonesia sebagai Pengetahuan Dasar Menulis dalam Coaching Clinic Menulis yang digelar Sekolah Menulis Padangsidimpuan di SMPIT Darul Hasan padangsidimpuan. 

Penulis: Mariam Harahap | Editor: Mahendra Siregar

Sekolah Menulis Padangsidimpuan, lembaga pendidikan informal yang dibentuk oleh Lembaga Kajian dan Pengembangan Kebudayaan Daerah (LKPKD), menggelar "Coaching Clinic Menulis" di lingkungan siswa SMP Islam Terpadu Darul Hasan Kota Padangsidimpuan selama lima hari, sejak Selasa, 19 Agustus 2025 sampai 24 Agustus 2025. 

Kepala SMP Islam Terpadu Darul Hasan Padangsidimpuan, Fatma Muhriza, M.Pd, mengatakan kegiatan Coaching Clinic Menulis yang digelar di SMP IT Padangsidimpuan ini merupakan program Dinas Pendidikan Kota Padangsidimpuan untuk meningkatkan kemampuan siswa-siswa dalam literasi. 

"Literasi siswa harus ditingkatkan. Dengan coaching clinic menulis ini, kita berharap anak-anak mendapatpendidikan dan pelatihan menulis agar mereka lebih mencintai literasi," kata  Fatma Muhriza, M.Pd saat membuka acara Coaching Clinic Menulis di gedung SMP IT Darul Hasan Padangsidimpuan, Selasa, 19 Agustus 2025. 

Menurut Fatma Muhriza, M.Pd, program pendidikan dan pelatihan menulis untuk siswa SMP IT Darul Hasan Padangsidimpuan  untuk meningkatkan kualitas siswa didik. "Saya berharap kegiatan seperti ini berlangsung agar anak-anak didik bisa mengembangkan kemampuan dan kapasitas dirinya."

Sementara itu, Dian Maas Saputra, Direktur Sekolah Menulis Padangsidimpuan, mengatakan dalam kegiatan Coaching Clinic Menulis ini, Sekolah Menulis Padangsidimpuan menyediakan para trainer yang akan memberikan pelatihan bidang "Menulis Cerpen" dan "Menulis Karya Jurnalistik" akan disampaikan Budi Hutasuhut, seorang sastrawan cum jurnalis yang juga Pemimpin Redaksi Sinar Tabagsel. 

Selain itu,  tambah Dian, akan ada materi tentang "Menulis Puisi" yang disampaikan Efry Nasaktion, seorang penyair yang juga menjadi trainer penulisan puisi di berbagai lembaga. 

Sementara pengetahuan dan pemahaman tentang Bahasa Indonesia sebagai dasar untuk menulis akan diberikan oleh  Ahmad Rusli, M.Hum, seorang akademisi. 

"Hari pertama Coaching Clinic Menulis akan dimulai dengan materi Bahasa Indonesia," kata Dian. 

Menurut Dian, Coaching Clinic Menulis merupakan program yang dilakukan LKPKD setiap tahun dengan cara roadshow ke sekolah-sekolah yang ada di wilayah Tapanuli bagian Selatan. "Tahun ini kita menggelar di SMP IT Darul Hasan, dan beberapa sekolah lainnya. Tahun 2024 lalu, kita menggelar hal serupa di SD IT Bunaiya padangsidimpuan," katanya.

Dengan program roadshow Coaching Clinic Menulis ini diharapkan akan muncul potensi-potensi baru penulis di Kota Padangsidimpuan. "Kami yakin, generasi muda di Kota Padangsidimpuan memiliki kreativitas yang luar biasa. Mereka hanya butuh medium dan pembimbing," katanya.      

Junaisil Rihana Annur , Siswa SMA Swasta Nurul Ilmi, Juara Satu FLS3N Tingkat Sumatra Utara

Junaisil Rihana Annur, siswi kelas XII PI 3 SMA Swasta Nurul Ilmi Kota Padangsidimpuan, meraih juara 1 Lomba Karya Jurnalistik dalam FLS3N tahun 2025

Penulis: Dian Maas Saputra | Editor: Marhendra Siregar

Junaisil Rihana Annur, siswi kelas XII PI 3 SMA Swasta Nurul Ilmi Kota Padangsidimpuan, meraih juara 1 Lomba Karya Jurnalistik dalam Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tingkat Provinsi Sumatra Utara. Juara ke dua diraih Raysah Rahayu Solihat dari SMAN 3 Panyabungan, dan juara ke tiga diraih Yemima Evnike Silabar dari SMAN Tanjungbalai. 

Junaisil Rihana Annur terpilih mewakili Kota Padangsidimpuan dalam ajang FLS3N tingkat Provinsi Sumatra Utara setelah sebelumnya menjadi juara pertama dalam ajang serupa yang digelar di Kota Padangsidimpuan yang digelar 19--21 Juni 2025 lalu.

Efry Nasaktion, salah seorang juri FLS3N Kota Padangsidimpuan, menilai karya jurnalistik yang ditulis Junaisil Rihana Annur memiliki kadar human interst yang tinggi. Karya jurnalistik yang diperlombakan di ajang FLS3N Kota Padangsidimpuan itu bercerita tentang tenun tradisional di Desa Pahae Aek Sagala, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan. 

"Ia menulis feature, tulisan jurnalistik yang menitikberatkan pada kisah manusia (human interst). Sudut pandangnya tepat, melihat penenun sebagai salah satu pekerjaan yang melestarikan nilai-nilai budaya lokal," kata Efry. 

Menurut Efry, peserta lomba karya jurnalistik dalam FLS3N Kota Padangsidimpuan sangat sedikit. Dari sedikit peserta itu, karya jurnalistik Junaisil Rihana Annur terpilih sebagai juara pertama. "Karya itu yang diperlombakan pada ajang FLS3N tingkat Provinsi Sumatra Utara dengan perubahan banyak hal," katanya. 

Sementara Budi Hutasuhut,  juri FLS3N Kota Padangsidimpuan lainnya, menilai minat pelajar di Kota Padangsidimpuan mengikuti lomba karya jurnalistik sangat minim. Dalam FLS3N Kota Padangsidimpuan, jumlah peserta pada setiap perlombaan tidak lebih dari sepuluh peserta.  

"FLS3N Kota Padangsidimpuan hanya diikuti SMA negeri dan swasta, sementara MA, SMK, MAK, dan sederajat tidak ikut FLS3N," katanya. 

Budi hutasuhut berharap, semoga tahun depan, FLS3N diikuti semua pelajar karena FLS3N merupakan mediun bagi pelajar untuk mengeksplorasi, mengembangkan, dan menyalurkan bakat seni yang mereka miliki.

"Kota Padangsidimpuan punya potensi besar untuk memenangi FLS3N," kata Budi Hutasuhut.

Setiap tahun, tambahnya, tidak ada siswa SMA/MA/SMK/MAK/Sederajat dari Kota Padangsidimpuan yang mewakili Provinsi Sumatra Utara dalam berbagai perlombaan di bidang kesenian di ajang FLS3N tingkat nasional.  Para pemenang FLS3N  di Kota Padangsidimpuan selalu gagal di ajang FLS3N tingkat Provinsi Sumatra  Utara, seakan-akan kemampuan siswa-siswa SMA sederajat sangat lemah untuk mengeksplorasi, mengembangkan, dan menyalurkan bakat seni yang dimiliki. 

Dari penelusuran Sinar Tabagsel terhadap gelaran FLS3N di Kota Padangsidimpuan pada 19--21 Juni 2025, jumlah peserta yang mendaftarkan diri pada 20 ajang perlombaan sangat minim. Seluruh peserta yang mengikuti 20 jenis perlombaan itu cuma 87 orang siswa. Bahkan, ada perlombaan yang hanya diikuti satu peserta, atau jumlah peserta pada setiap perlombaan tidak lebih dari 7 orang. 

Data jumlah peserta ini menunjukkan, minat siswa-siswa SMA sederajat di Kota Padangsidimpuan untuk mengikuti berbagai perlombaan di ajang FLS3N sangat rendah.  

"Toelbok Haleon", Novel Sutan Pangurabaan Pane yang Menyimpan Warisan Kultural Angkola

Novel "Toelbok Haleon" ditulis Sutan Pangurabaan Pane pada tahun 1909, saat dia sering bepergian dari Muara Sipongi-Padang Sidimpuan-Ford de Kock-Sibolga. Dia seorang pengusaha di segala bidang, mulai dari pedagang hasil bumi, pedagang buku yang ditulis dan diterbitkan sendiri, sampai sebagai pengusaha transportasi. Dia memilih pekerjaan sambil bekerja sebagai guru.

Oleh Budi Hatees

Awalnya dia jadi guru di HIS Muara Sipongi, sebuah daerah yang menyebabkan istrinya selalu menderita suatu penyakit yang tak terobati. Alasan penyakit istrinya itu membuatnya pindah ke Padang Sidimpuan. Dia menjadi guru di HIS Padang Sidimpuan, tetapi kemudian dia berhenti karena bisnisnya berkembang pesat sejak novel Toelbok Haleon jadi karya yang banyak dibaca publik.
Istrinya meninggal di Padang Sidimpuan. Konon, istri Sutan Panguraban Pane yang fisiknya lemah, terkena serangan malaria. Untuk mengenang derita istrinya yang selalu sakit-sakitan, Sutan Pangurabaan Pane menamai anak terakhirnya sebagai Lafran Pane (nama yang dipinjam dari Charles Louis Alphonse Laveran, seorang ilmuwan peraih Nobel Kedokteran yang menemukan penyakit penyebab malaria).
Tahun 1909, novel Toelbok Haleon awalnya ditulis sebagai cerita bersambung di Poestaha, surat kabar berbahasa Angkola yang dikelola oleh Sutan Casayangan Harahap, seorang guru di Kweekschool Ford de Kock.
Sutan Casayangan masih kerabat Sutan Pangurabaan Pane, karena salah seorang dari anggota keluarga istri Sutan Pangurabaan Pane yang bermarga Siregar menikahi gadis bermarga Harahap di keluarga Sutan Casayangan Harahap. Mereka juga sempat satu sekolah di Kweekshool Padang Sidimpuan, tapi sekolah itu ditutup setelah wisuda terakhir. Sutan Casayangan Harahap wisudawan terakhir di Kweekschool Padang Sidimpuan. Sisa siswanya dialihkan ke Kweekschool Ford de Kock di Bukit Tinggi, dan Sutan Pangurabaan Pane salah satu yang dialihkan ke Kweekshool Ford de Kock.
Pertemanan dengan Sutan Casayangan membuat Sutan Pangurabaan Pane menekuni dunia surat kabar. Menulis novel pertamanya, "Toelbok Haleon", dan mendapat tanggapan luar biasa dari masyarakat pembaca. Tahun 1910-1930, Padang Sidimpuan merupakan kota yang ramai.
Sutan Pangurabaan Pane membuka novelnya dengan narasi sebagai berikut:
"Nada dope sadia dan sadia lolot, bonggal toe djae toe djoeloe sap toe desa na waloe, di poesot ni Tapanoeli on, na bahat pangomoan, marragam marbage-bage pandaraman. Mambege i manamboes ma halak na ro, adong na tandang mardjagal, tombal na malo majoerat ro ibana mandjalahi haredjo djoeroe toelis, adong antong na gabe djoeroe toelis ni Oelando, adong moese na gabe karani ni soedagar.
(Belum begitu lama, santer ke seluruh semesta, di pusat tanah Tapanuli, ada banyak pekerjaan dan beragam cara bisa dilakukan untuk mencari kehidupan. Mendengar cerita itu, berbondong-bondong orang datang, ada yang khusus berjualan, yang pandai baca tulis mencari pekerjaan sebagai juru tulis. Ada yang akhirnya jadi juru tulis Belanda (Oelando), ada yang jadi karani para saudagar.)
Halak na hoem saotik do sinaloanna manjoerat, tai sorana na gogo, bohina marrintop, pamatangna togos, bitisna toemboer, taoeken na lakoe ma ibana gabe mondoer. Ise na so malo di tangan hoem gogona do adong, laing dapot ibana pinomat hoem haredjo markoeli-koeli.
(Orang yang hanya sedikit kemampuannya dalam tulis baca, tapi suaranya kencang, keningnya mengkilap, badannya bertenaga, betisnya bengkak, karakter seperti itu cocok menjadi mandor. Siapa pun yang tak punya keahlian tapi hanya memiliki tenaga, tetap dapat pekerjaan meskji kerja sebagai kuli.)
Indoe, di dolok-dolok an, sian siambirang laho toe Kampoeng Toboe, di si ma djongdjong sada bagas nagodang. Moeda hoem torang sidoemadang ari manamboes ma djolma ro toe bagas i, sasadia halak Bolanda, Djao, Malajoe dohot halak hita marsibaen haredjona.
(Itu, di bukit-bukit, di sebelah kiri menuju Kampung Tobu, di situ berdiri sebuah rumah besar. Begitu hari terang, orang-orang akan riuh mendatangi rumah itu. Sebagian orang Belanda, Melayu, dan orang-orang kita akan melakukan apa saja di rumah itu).
Manamboes di si djolma na marpinfoeloen nada marsipatoe dongar-dongar sorana mandok: “Boengkoes on, momos i, porsan on, oban i!" ningna laho toedoe-toedoe toe barang na margoendalo-goendalo nadi bagas i.
(Mereka berteriak-teriak menyuruh seseorang sambil berkata: "Bungkus ini, saputi itu, pikul ini, bawa itu" sementara telunjuk menunjuk-nunjuk barang-barang yang berserakan di rumah itu.)
Dari pembukaan seperti itu, pembaca mendapat gambaran bahwa pusat Tapanuli (Keresidenan Tapanuli), yakni ibu kota Padang Sidimpuan, adalah kota dagang yang ramai dan sibuk. Kehidupan sudah menggeliat saat pagi. Orang-orang sibuk bekerja.
Frasa "Toelbok Haleon" yang dipakai Sutan Pangurabaan Pane menjadi judul novelnya, secara metaforik bermakna "jiwa yang lapar". Secara harfiah kata "toelbok" dari bahasa Angkola berarti "jiwa" dan kata "haleoin" berarti "musim kelaparan".
Di lingkungan masyarakat Angkola, masyarakat yang mendiami wilayah yang menjadi pusat dari Tanah Tapanuli (Keresidenan Tapanuli periode 1853-1905 beribukota Padang Sidimpuan), berlaku secara umum sekian banyak musim yang dikaitkan dengan tradisi bertani (padi sawah).
Ada musim "haleon" (kelaparan), "pakkuron" (bekerja), "baboon" (berutang pupuk), "boltok eme" (awal kelaparan), dan "manyabi" (panen). Musim-musim ini sangat erat kaitannya dengan sistem pengairan di pesawahan, yang mengandalakan tadah hujan, atau dalam bahasa Angkola "martahalak tu langit (ber-irigasi-kan langit)".
Musim-musim ini juga menjadi penanda waktu bagi masyarakat. Misalnya, ketika suatu komunitas masyarakat dari kampung A berkata kalau di daerah mereka sedang musim "baboon" (musim menyiangi gulma di sawah), bisa dipastikan komunitas masyarakat itu akan sulit diajak untuk urusan apa saja. Mereka akan menolak ajakan sambil berkata: "Sompit babaoon sannari (semua sempit di musim baboon ini)".
Atau, ketika "haleon" dialami suatu komunitas, bisa dibayangkan kalau setiap keluarga dalam komunitas itu hidup serbakekurangan bahan pangan. Tak ada lagi beras dan kondisi seperti itu serentak di kampung tersebut. Di masa lalu, saat "haleon", ketiadaan beras akan diganti dengan "silalat" (singkong), gadung (ubi jalar), atau umbi-ubian lainnya. Beras menjadi barang yang sangat mahal.
Pada tahun 1870-an, sejumlah kampung di Sipirok --yang merupakan wilayah Onderafdeeling di bawah pemerintahan administyratif Afdeeling Padang Sidimpuan -- pernah dilanda wabah pokken (penyakit cacar yang disebabkan virus variola). Waktu itu, pokken dianggap penyakit kutukan. Kulit seseorang yang terkena pokken akan melepuh, lalu meleleh mengeluarkan cairan yang diyakini dapat menulari orang lain.
Orang-orang sangat menderita, dikucilkan karena diduga terkena begu (hantu atau jin), dan diasingkan ke haritte (kepundan gunung berapi) di sekitar Desa Situmba agar tidak menulari orang lain. Pada masa itulah, terjadi wabah ikutan "haleon" atau musim kelaparan berkepanjangan. Wabah penyakit membuat orang tidak bisa bertani. Bahan makanan tak ada. Ubi-ubian tak ada. Keserakan di mana-mana. Perkelahian terjadi.
Sutan Pangurabaan Pane mengenangkabn peristiwa haleon itu dengan melahirkan frase "tolbok haleon" (jiwa yang kelaparan). Di dalam kata pengantar penulis (patoejolona) dari novel Toelbok Haleon, Sutabn Pangurabaan Pane menulis pesan:
".... dibaen i ma anso hoetoeget-toegeti pararat hobaran on, asa hoebaen oeloena Tolbok Haleon anso oelang magosian pangarohai ni dongan na doea toloe, mandok na masa tolbok haleon di hita on, moese anso rap tadjalahi dalan, sanga songon dia anso tolbok haleon i, niago sian tonga-tonga ni bangsonta, asa hasidoengarina mardonaon hita soede."
".... lantaran itu, aku cobausahakan pembicaraan dalam buku ini, dan aku buat judulnya Toelbok Haleon supaya para pembaca tak bertanya-tanya tentang judul ini. Toelbok Haleon ini untuk mengingatkan kepada kita semua, juga supaya kita sama-sama mencari jalan keluarnya, entah bagaiamana pun caranya, supaya tolbok haleon dihilangkan dari kehidupan kita sehari-hari dan akhirnya segala kebaikan untuk kita semua"
Aku membaca novel yang kata pengantar penulisnya ditandai dengan Padang Sidimpoean, 1 Augustus 1916. Di halaman dalam,
ditulis "Tolbok Haleon, siriaon di na tobang, sipaingot toe na poso boeloeng". Di hata Angkola, na nibaen ni Sutan Pangurabaan Pane,
guru di Padang Sidimpuan (Tolbok Haleon, hiburan bagi yang tua, nasehat bagi yang muda). Rokoman na paduahoan (cetakan kedua). Nirokom di pangarokoman ni Partopan Tapanuli (dicetak oleh percetakan Partopan Tapanuli) di Padang Sidimpuan tahun 1916.
Novel yang aku baca ini buku cetakan kedua tahun 1916. Sejak disiarkan pertama kali tahun 1909 di surat kabar PostahaPadang Sidimpuan, novel ini sudah dua kali dicetak ulang. Pertama kali diterbitkan sebagai buku, novel setebal 300 halaman ini dicetak Penerbit di Sibolga tahun 1911. Kemudian tahun 1916 memasuki cetak kedua.
Novel ini merekam watak kultur masyarakat Angkola. Bagaimana masyarakat Angkola pada masa kolonialisme Belanda, dijelaskan dengan narasi di mana ketika orang-orang Belanda hidup sebagaimana cara hidup masyarakat di padang Sidimpuan. Tiap pagi mereka bangun, lalu mencari kedai kopi, kemudian minta dibungkuskan sarapan berupa kuliner khas seperti pisang goreng, onde-onde, itak pohul-pohul, dan lain sebagainya. Mereka tidak mendapat perlakuan khusus dari pedagang, antri sebagaimana masyarakat lokal menunggu giliran dilayani pedagang.
Selain soal kehidupan sosial pada masa kolonial itu, novel Toelbok Haleon banyak melukiskan tradisi kultural masyarakat ANgkola. Misalnya, hidup mengandalkan MCK (mandi cuci kakus) di sungai atau disebut tapian. Saat di tapian, hubungan sosial terangkai. Percakapan terjadi. Persoalan krusial yang dibicarakan selalu yang berkaiotan dengan kehidupan.
Berikut salah satu adegan dalam novel.
Doeng tolap halahi toe losoeng aek i, didjama-djama Nai Lillian Lolosan ma dahanon i, bia ma na sak- sak boti hortang-hortang.
(Setelah sampai ke lesung air--ini teknologi tradisional masyarakat Angkola yaitu tempat memproduksi tepung beras-- dipegang-pegang Nai Lilian Lolosan (nai artinya ibunya Lilian Lolosan) beras di tangannya, betapa putih bersih kelihatannya.
"Eme si aha de he on maen?'' ning Nai Lilian Lolosan.
("Padi --varietas-- apa ini Maen ?" tanya Ibunya Lilian Lolosan.)
"On ma da boto ho naimboroe, erne sikopal tjino," ning marbadjoe i
(Kalau kau, inilah yang disebut padi Sikopal Chino." kata perempuan di samping ibunya Lilian Lolosan.
"Eme sikopal tjino? On dope hoebege goar ni eme na songon i. Anggo na hoeboto sipahantan do na djoemeges dahanon di Angkola on!''
("Padi Sikopal Choino? Baru ini kudengar nama padi seperti ini. Sepengetahuanku, padi yang paling bagus di Angkola ini hanya Sipahattan")
Ro aloes ni anak boroe i: „Na nitongos ni dainang do da on namboroe sian Mandailing, baen baroe simpoel manjabi halahi; tai anggo di sadoe adong dope eme na djoemeges saraga nai, goarna siboroe omas.' ning si Gandoria.
(Jawaban perempuan itu: "Yang dipesan ibuku beras ini Namboru dari Mandailing karena di sana baru saja selesai panen. Tapi, kalau di sana masih ada padi yang lebih bagus sebanyak satu raga lagi. Namanya Siboru Omas" kata si Gondoria.)
"0lo da maen, djop rohamoe na mandjagit tongosan i"'
("I ya, Maen. Senang rasanya mendapat pesannan seperti itu)
"Laing na todas do i manongos halahi lima-lima boban'', ning anak boroe i, laho dibaensa dahanon i doea soloep toe bahoel.
("Memang mereka selalu mengirim lima-lima beban", kata perempuan itu sambil memasukkan dua solup beras ke bakul.)
"Oban da namboroe dahanon on di ho, anso dai djolo sikopal tjino on," ning na marbadjoe i moese.
("Ini untuk Namboru supaya Namboru bisa menikmati beras Sikopal Chino ini," kata perempuan itu. )
"Tama ma nai da maen,'' ning Nai Lilian Lolosan laho mandjagit dahanon i dohot moga ni rohana, asa oedoer ma halahi moeli.
("Senangkali hatiku, Maen," kata Ibunya Lilian Lolosan saat menerima beras pemberian itu, kemudian mereka bersama-sama meninggalkan tempat itu.
Dari percakapan ibunya Lilian Lolosan (tokoh sentral dalam novel adalah Lilian Lolosan) dengan perempuan yang ditemui di lesung air, hubungan sosial di antara mereka sangat bagus. Si perempuan yang sebetulnya tidak mengenali ibunya Lilian Lolosan, mau membagiukan beras baru kepada ibunya Lilian Lolosan. Hubungan sosial seperti ini sangat kuat dalam masyarakat Angkola dan masih sering dijumpai.
Hubungan sosial seperti ini berasal dari adat kebiasaan masyarakat Angkola, di mana anak orang lain yang seusia dengan anak sendiri akan dianggap dan diperlakukan seakan-akan anak sendiri. begitu juga dengan seorang anak akan memperlakukan seorang ibu atau seorang ayah yang tidak dikenalnya secara pribadi sebagai orang yang sama dengan orang tuanya.
Nilai-nilai seperti ini bukan tanpa alasan disampaikan Sutan Pangurabaan pane lewat dialok tokoh-tokohnya. Sebagai seorang guru, Sutan Pangurabaan Pane tidak pernah keluar dari patronnya sebagai pengajar.
Buku tebal dan terdiri dari dua jilid ini, tak lagi dibaca masyarakat Angkola. Sangat mungkin, orang tidak tahu betapa kayanya nilai-nilai budaya Angkola yang direkam Sutan Pangurabaan Pane dalam karya-karyanya.
Nilai-nilai masyarakat Angkola yang direkam Sutan Pangurabaan Pane, bertolak belakang dengan nilai-nilai Angkola yang direkam Merari Siregar dalam Azab dan Sengsara (selanjutnya disingkat ADS) karya Azab dan Sengsara meskipun keduanya sama-sama berasal dari Sipirok. merari Siregar sangat kolonial, merekam dan memperjuangkan keinginan kolonial, membuat budaya masyarakat Angkola menjadi buruk.
Belanda lewat Balai Pustaka memilih menerbitkan Azab dan Sengsara yang berlatar-belakang budaya Angkola dan ditulis oleh Merari Siregar --anak keturunan Sutan Martuwa Raja. Bagi Belanda, masyarakat Angkola yang kuat mempertahankan budaya dan menentang kolonialisme pada dekade 1910-1930, harus dilemahkan dengan cara merusak budayanya. Belanda tidak pernah menerbitkan novel yang berlatar budaya Madailing, karena masyarakat Mandailing itu hidup sebagai bagiuan dari pemerintahan koloniual Belanda yang bekerja di pusat-pusat administrasi pemerintahan.
Sejak 1910-an, Belanda sudah berusaha menghapus masyarakat Angkola dari setiap kajian tentang Batak. Upaya itu mendapat dukungan dari masyarakat Mandailing, terutama saat terjadi kasus krusial terkait Serikat Dagang. "Pertempuran" antara masyarakat Angkola dengan masyarakat Mandailing di Medan terkait tanah pekuburan Tanah Mati, dikemas masyarakat Mandailing yang didukung kolonialisme Belanda untuk menghapus jejak kulturan masyarakat Angkola. Buku Mangaraja Ihutan tentang "Sejarah Pekuburan Tanah Mati" mengisahkan secara subyektif versi Mandailing tentang masyarakat Angkola tanpa ada pendapat (tanggapan). Dan masyarakat Mandailing melakukannya dibnantu advokat berkebangsaan Belanda.
Sebagai contoh kesesatan atau penyesatan adat Angkola oleh Merari Siregar dana Azab dan Sengsara terutama pada narasi tentang "pelarangan menikah sesama marga" yang dipahami Belanda seakan-akan pelarangan itu bermakna melarang anak mencari jodoh sendiri dan memaksa anak menikah dengan pilihan orang tuanya. Aminuddin dan Mariamin yang tak salah secara adat, dinilai keliru. Keduanya dipisahkan Merari Siregar seakan-akan persoalan kaya dan miskin itu sangat penting bagi masyarakat adat Angkola, Persoalan adat yang lebih penting bagi masyarakat Angkola apalagi pada masa novel ini ditulis.

Cerpen: Tentang Laki-Laki Muda Berjaket Coklat Tua

Cerpen: Febrie Hastiyanto

Laki-laki  muda berjaket coklat-tua memerlukan beberapa kejap memejamkan mata, sesaat sebelum bus Puspa Sari yang ditumpanginya memasuki Terminal Rajabasa. Angannya membual pada kenangan beberapa tahun lewat, pikirannya dipenuhi kekhawatiran yang gugup: pada mimpi dan cita-cita yang disemainya di kota ini. Setelah turun dari bus, laki-laki muda berjaket coklat-tua bergegas melompat ke dalam bus lain lagi, Damri trayek Terminal Rajabasa-Tanjung Karang. Tadi ia sempat mengedarkan pandang ke sekeliling terminal. Ia menggeleng kepala sendiri, menenangkan batinnya. Katanya kepada batin: menggerutu soal kesemrawutan tak baik bagi kesehatan. Laki-laki muda berjaket coklat-tua memilih menyandarkan kepalanya di kursi bus. Bus sejuk berpendingin udara.

Pelan-pelan Damri tengah menyusuri Jalan Z.A. Pagar Alam. Sebentar lagi Damri akan melintasi perempatan Universitas Lampung, lalu Museum Lampung lalu kampus-kampus Universitas Mitra Lampung, Kampus Darmajaya, Perguruan Teknokra juga Universitas Bandar Lampung. Memasuki bilangan Pasar Koga di Kedaton membuat mata laki-laki muda berjaket coklat-tua lebih awas lagi. Ia ingat dulu, lama sekali pernah bergiat menimba ilmu di satu lembaga bimbingan belajar. Berolah trik-trik menjawab soal UMPTN, dengan rumus-rumus praktis, jawaban tebakan—dengan sejumlah keyword tertentu. Pokoknya raih jawaban benar sebanyak-banyaknya, atur strategi passing grade jurusan yang diinginkan, tambahkan banyak doa, dan jangan lupa restu kedua orang tua. Sambil tersenyum laki-laki muda berjaket coklat-tua mengenang jalan hidupnya.

Senja mulai turun, diselimuti debu dari jalan yang cepat-cepat diperbaiki menjelang bulan puasa. Bandar Lampung cerah sore itu. Laki-laki muda berjaket coklat-tua telah melintasi tempat-tempat yang menggetarkannya. Terminal Tanjung Karang di lantai dasar Ramayana, menengok Pasar Tengah yang berjejal pertokoan, Jalan Radin Intan, masih ada Tugu Gajah, lalu Central Point, tidak ketinggalan Mal Kartini, dan tentu saja melirik Pasar Bambu Kuning dengan bangunan yang lebih segar kini dan Pasar Smep yang semakin doyong dari dalam bus. Kemudian Rumah Makan Padang di gang masuk dekat Hotel Ria.

TELUK Lampung terlihat dari tempat laki-laki muda berjaket coklat-tua duduk. Sambil merapikan kerah jaketnya, mengusir gugup, laki-laki muda berjaket coklat-tua sesungguhnya tak dapat menebak betul, garis pantai yang memisahkan laut dengan daratan. Laki-laki muda berjaket coklat-tua hanya menandainya dari lampu-lampu yang berpendar dan sedikit imajinasi. Tempat makan minum itu ramai. Agak di depan, membelakangi teluk seorang biduan berambut ikal bersusah payah menarik perhatian orang yang makan minum dengan nyanyiannya. Banyak orang makan minum tak hirau, asyik dengan makan malamnya. Laki-laki muda berjaket coklat-tua itu memberi senyum pada biduan berambut ikal. Biduan berambut ikal itu tak melihatnya. Laki-laki muda berjaket coklat-tua tetap tersenyum. Kali ini kepada dirinya sendiri.

Lampu-lampu di tempat makan minum itu tak terang. Sepertinya memang dibuat temaram. Meskipun puas memandang biduan berambut ikal dari panggung kecil membelakangi teluk, laki-laki muda berjaket coklat-tua merasa seperti orang yang mengintip. Laki-laki muda berjaket coklat-tua berlindung dalam cahaya yang samar. Biduan berambut ikal menyanyikan satu lagu yang sedang populer di radio dan televisi. Gayanya berkelas, tidak merajuk orang untuk menonton dengan syahwat. Laki-laki muda berjaket coklat-tua tak perlu mengernyitkan dahi untuk mengatakan biduan berambut ikal itu menarik, menarik bagi kelaki-lakiannya.

Sambil mengudap roti bakar laki-laki muda berjaket coklat-tua membuang pandang pada orang-orang yang sedang makan minum. Di depan sana, lima-enam-tujuh orang, dalam hitungan cepat melalui matanya dalam dua kejap, sedang merubung satu meja. Mereka terbahak-bahak bergembira. Seorang diantaranya meniup lilin di atas kue. Tepuk tangan terdengar riuh, lalu terbahak-bahak, kemudian menyanyi koor, kemudian terbahak lagi. Satu-dua orang punggungnya berguncang-guncang dari tempat duduk laki-laki muda berjaket coklat-tua.

Angin laut memberikan kesegaran baru di Bandar Lampung yang malam itu gerah. Laki-laki muda berjaket coklat-tua melirik ke teluk, mendapati biduan berambut ikal sudah tidak menyanyi lagi. Kali ini ia merokok filter putih. Lubang-lubang asap terbentuk dari bibirnya, kemudian ia meniup kuat-kuat membuat lubang asap kehilangan bentuk menjadi kabut. Laki-laki muda berjaket coklat-tua memberi senyum kepada biduan berambut ikal. Biduan berambut ikal tak melihat sebab temaram lampu tempat makan minum itu tertutup kabut asap rokoknya. Laki-laki muda itu kemudian tersenyum. Pura-pura tersenyum pada seorang wanita karier yang blazer-nya belepotan kue tart. Lima-enam orang di sekelilingnya terbahak-bahak.

“APA sih makna idealisme bagimu?” tanya perempuan muda berambut ikal, kepada laki-laki muda berjaket coklat-tua. Laki-laki muda berjaket coklat-tua menjawab dengan senyum. Pandangnya diedarkan ke sekeliling meja. Perempuan muda berambut ikal menunggu dalam desah napas yang tertahan. Laki-laki muda berjaket coklat-tua sedang larut dalam lelehan susu coklat kental manis di sela-sela roti bakar. Roti bakar tinggal seperempat, remah-remah keju parut terserak di meja. Mata laki-laki muda berjaket coklat-tua melirik keringat pada gelas jus jambu biji. Ia memainkan sedotan, kali ini sambil memandang lekat perempuan muda berambut ikal.

“Apa sebab idealisme pula kau tak pernah singgah di kota ini?” lagi perempuan muda berambut ikal merajuk. Kali ini laki-laki muda berjaket coklat tua menjawab: “Tidak, bukan. Kota ini sungguh magis bagi saya,” katanya sambil membuang pandang kepada lampu-lampu di Teluk Lampung. “Saya hanya ingin tinggal di kota ini, lain tidak. Pekerjaan membuat saya harus bermukim di luar kota.” Laki-laki muda berjaket coklat-tua memainkan remah-remah keju parut di meja. “Saya selalu menghindari kota ini, karena tahu dorongan itu terlalu kuat. Saya tak ingin mengecewakan diri sendiri. Saya tak ingin ke kota ini, untuk kemudian tak mampu pergi ke lain kota. Sedang saya harus bekerja.” Kali ini matanya mengikuti rambut perempuan muda yang mengombak.

Perempuan muda berambut ikal menyeruput jus semangka. Sedikit menyesal, karena pertanyaan ini sudah ditanyakannya bertahun lewat. Tak ada yang berubah dari jawaban laki-laki berjaket coklat-tua. Perempuan muda berambut ikal menghela napas dalam-dalam, memenuhi rongga dadanya. Ia merasa sedikit nyaman. Baik, baik, katanya dalam hati.

“Lalu kenapa kau sekarang ke kota ini?” tanya perempuan muda berambut ikal. Kali ini tak ada nada merajuk. Tak berguna, pikir perempuan muda berambut ikal. Laki-laki muda berjaket coklat-tua mengangguk-angguk, mengumpulkan keberaniannya. “Karena,” katanya sambil memandang lekat perempuan muda berambut ikal, “Saya tak ingin pergi lagi dari kota ini.” Laki-laki muda benar-benar telah mengumpulkan keberaniannya. Setelah mengatakan kalimat itu, ia tak segera membuang pandang dari mata perempuan muda berambut ikal. Perempuan muda berambut ikal justru menjadi grogi. Ia memerlukan menelan ludah untuk menenangkan diri.

“Kau akan pindah bekerja?” tanya perempuan muda hati-hati, takut dianggap merajuk. Laki-laki berjaket coklat-tua menggeleng. Katanya: “Tidak, saya akan berhenti, dan mencari kerja, atau membuat kerja di kota ini. Tabungan saya cukup untuk mengontrak rumah selama dua tahun di kota ini, dan biaya hidup satu keluarga kecil selama empat-atau-lima bulan. Kau bisa menyanyi, saya akan menulis puisi.” Perempuan muda berambut ikal cepat memotong: “Kau bisa hidup dari puisi?” Laki-laki muda berjaket coklat-tua tersenyum. “Tidak,” katanya pelan. “Tetapi saya tidak bisa hidup bukan di kota ini.”

Laki-laki muda berjaket coklat tua memejamkan matanya. Mengumpulkan keberaniannya untuk yang lain lagi. Perempuan muda berambut ikal menunggu sambil menyeruput jus semangka di depannya. Laki-laki muda berjaket coklat-tua membuka mata dan mengatakan kepada perempuan muda berambut ikal: “Kau sudah menikah?”

Perempuan muda berambut ikal tersenyum. Ia merasa tidak ada beban. “Sudah,” katanya. “Suami saya bekerja di dealer sepeda motor. Kami belum punya anak.” Perempuan muda berambut ikal memainkan sedotan di jus semangka. “Kau kecewa?” tanyanya pelan. Laki-laki muda berjaket coklat-tua tak menjawab. Matanya memandang lampu-lampu di Teluk Lampung. “Tidak,” katanya tanpa memandang wajah perempuan muda berambut ikal. “Sedikit,” ralatnya kemudian.

Perempuan muda berambut ikal memandang laki-laki muda berjaket coklat-tua dengan senyum. Dadanya terasa lapang. Bukan sebab dendam, bukan sebab kasihan. Laki-laki muda berjaket coklat-tua kini memandang lekat mata perempuan muda berambut ikal. Mungkin untuk yang terakhir kali, batinnya.

Perempuan muda berambut ikal mengatakan sesuatu kepada laki-laki muda berjaket coklat-tua, pelahan: “Kau akan meninggalkan kota ini lagi?” Laki-laki muda berjaket coklat-tua tersenyum menghapus kekecewaannya yang sedikit tadi. “Tidak,” katanya mantap. “Saya tak bisa hidup bukan di kota ini.” Perempuan muda berambut ikal memaksakan diri tersenyum. Batinnya koyak, namun ia meyakinkan dirinya bahwa ia bukanlah penyebabnya. Perempuan muda berambut ikal itu bertanya lagi pada laki-laki muda berjaket coklat-tua. Tanyanya, “Kau akan sering-sering ke tempat makan minum ini?” Laki-laki muda berjaket coklat-tua membuang pandang lagi, kepada lampu-lampu di Teluk Lampung, kemudian pada remah-remah keju parut, pada keringat di gelas jus jambu biji, pada lantai yang kotor kue tart, pada asbak di pinggir meja. Katanya; “Tidak. Saya tak ingin mengganggu rumah tangga orang.”

Perempuan muda berambut ikal tersenyum sambil memandang Teluk Lampung. Laki-laki muda berjaket coklat-tua juga memandang Teluk Lampung. Mereka sama-sama lega.

Slawi,  Juli 2011.

Kepada: Budi P. Hatees

Sastra Berbahasa Batak Butuh Penulis Baru

Karya sastra berbahasa Batak membutuhkan campur tangan pemerintah daerah untuk meregenerasi penulis sekaligus menciptakan pembaca baru lewat muatan lokal di lembaga-lembaga pendidikan formal. 

Oleh Budi Hutasuhut | Penulis peneliti kebudayaan Batak

Saut Poltak Tambunan, penerima dua kali Hadiah Rancage dari Yayasan Kebudayaan Rancage,  mengatakan hal itu ketika kami berbincang saat sama-sama jadi Pembicara dalam acara Lake Toba Writers Festival 2024 yang digelar di Kabupaten Samosir pada 14-16 September 2024 lalu. 

Ia bercerita, setelah menerbitkan sendiri buku-buku sastra bahasa Batak,  ia  masih harus mensosialisasikan buku-buku itu langsung ke sekolah-sekolah di kampung di Sumatra Utara. Untuk kegiatan itu,  ia harus mengeluarkan biaya sendiri. Dengan kerja budaya seperti ini, ia mengaku tidak lagi focus pada menciptakan karya baru, sehingga tanggung jawabnya sebagai penulis yang harus terus berkarya menjadi terkendala. 

Sayangnya, kerja budaya yang dilakukannya sejak tahun 2012 itu, belum mendapat respon dari pemerintah daerah,  sehingga sastra berbahasa Batak  belum menjadi produk budaya yang sangat penting dalam rangka melestarikan bahasa Batak sebagai salah satu warisan budaya masyarakat lokal. 

Meskipun begitu, kerja budaya yang dilakukan Saut Poltak Tambunan mampu membuat sastra berbahasa Batak menjadi fenomena baru bagi masyarakat pemilik Bahasa local itu. Ditandai dengan banyak muncul penulis baru yang menulis dalam bahasa Batak, meskipun bukan dari kalangan generasi muda.

Saut Poltak Tambunan seorang penulisan novel yang muncul sejak dekade 1980-an. Namanya sejajar dengan Ashady Siregar, Marga T, Mira W,  dan pengarang lainnya. Pada tahun 2012, setelah diundang dalam acara Ubud Writers dan Readers Festival di Bali, ia memutuskan beralih menulis sastra modern berbahasa Batak dengan mengalihbahasakan sejumlah cerpennya yang ditulis dalam Bahasa Indonesia ke dalam bahasa Batak, kemudian menerbitkannya dengan judul Mangongkal Holi  pada 2012. 

Tahun 2015,  kumpulan cerpen Mangongkal Holi  itu membuat Saut Poltak Tambunan menerima Hadiah Sastra Rancage dari Yayasan Kebudayaan Rancage. Lembaga yang dibangun Ajip Rosidi sejak 1988 untuk mengapresiasi karya-karya sastra berbahasa daerah,  sebelumnya hanya focus pada sastra berbahasa daerah yang ada di Pulau Jawa: Sunda, Jawa, dan Bali. Sejak Mangongkal Holi   menerima Hadiah Rancage, ini menandai pertama kalinya sastra berbahasa Batak masuk dalam penghargaan Hadiah Rancage. 

Namun, sastra berbahasa Batak bukan penghargaan pertama bagi sastra berbahasa daerah di luar Pulau Jawa atyau di Pulau Sumatra. Tahun 2008,  sastra berbahasa daerah Lampung, kumpulan puisi  Mak Dawah Mak Dibingi  (Tak Siang Tak Malam) karya Udo Z. Karzie sudah lebih dahulu mendapat Hadiah Rancage. 

Tahun 2008, sebagai direktur Yayasan Sekolah Kebudayaan Lampung, saya bertemu dengan Irfan Anshory (alm) dari Yayasan Kebudayaan Rancage di Bandung untuk menawarkan karya sastra berbahasa Lampung agar masuk dalam salah satu kategori pemberian Hadiah Rancage. 

Irfan Anshory yang berasal dari Lampung menyetujuinya dengan catatan,  kategori sastra berbaha Lampung akan masuk kategori Hadiah Rancage jika ada penerbitan sastra daerah berbahasa Lampung bisa muncul setiap tahun. Syarat kontinuitas penerbitan buku berbahasa Lampung ini, juga ditegaskan Ajip Rosidi dan Hawe Setiawan,  sehingga menjadi beban bagi saya dan Yayasan Sekolah Kebudayaan Lampung, karena penulis berbahasa Lampung tidak banyak. 

Beban ini akhirnya dipikul sehingga sastra berbahasa Lampung ditetapkan sebagai salah satu kategori dalam Hadiah Rancage. Hal pertama yang dilakukan adalah menggelar kegiatan sosialisasi sastra berbahasa Lampung ke para penulis Lampung, berbagai komunitas budaya Lampung, ke perguruan tinggi dan para akademisi, dan menggelar acara pelatihan menulis dalam Bahasa Lampung.

Beban yang sama juga disematkan di pundak Saut Poltak Tambunan setelah sastra berbahasa Batak ditetap sebagai salah satu kategori Hadiah Rancage sejak 2015. Saut Poltak Tambunan harus mengupayakan agar buku sastra berbahasa Batak bisa muncul tiap tahun. Meskipun tanggung jawab ini tidak mudah, Saut Poltak Tambunan memainkan perannya sebagai motor penggerak sastra berbahasa Batak. 

Saut Poltak Tambunan berhasil mendorong Rose Lumbantoruan untuk menerbitkan kumpulan cerpennya, Ulos Sorpi (Kain Ulos Terlipat), hingga mendapat Hadiah Rancage 2016. Saut Poltak Tambunan juga berperan dalam penerbitan buku Tansiswo Siagian, kumpulan cerpen Sonduk Hela yang menerima Hadiah Rancage 2017. Begitu juga dengan penerbitan kumpulan puisi Panusunan Simanjuntak, Bangso nu Jugul Do Hami, yang menerima Hadiah Rancage 2018.

Tahun 2019, Saut Poltak Tambunan juga berperan dalam menerbitkan novel berbahasa Bataka karya Robinson Siagian, Guru Honor, yang menerima Hadian rancage 2020. Namun, memasuki tahun 2020, masalah kontinuitas penerbitan buku sastra berbahasa Batak mulai muncul. Tidak ada buku baru berbahasa Batak yang diterbitkan, dan sastra berbahasa Batak tidak mendapat Hadiah Rancage 2021. 

Pada tahun 2021, muncul karya Ranto Napitupulu berjudul, Boru Sasada, yang kemudian memperoleh Hadiah rancage 2022. Sejak itu, penulis baru tidak muncul karena masalah regenerasi penulis yang stagnan. Saut Poltak Tambunan kemudian menulis novel Boan Au Mulak (Bawa Aku Pulang) yang kemudian menerima Hadiah Rancage 2023. Tahun 2023, tidak ada buku sastra berbahasa Batak yang diterbitkan sehingga tidak ada yang diikutsertakan dalam Hadiah Rancage 2024. 

Yayasan Kebudayaan Rancage memberikan Hadiah Rancage 2025 kepada Panusunan Simanjuntak untuk kumpulan puisinya, Parhutahuta Do Hami (Kami Orang Kampung). Dengan kemenangan ini, Panusunan Simanjutak sudah dua kali mendapat Hadiah Rancage. Dalam kumpulan puisi Parhutahuta Do Hami,   Panusunan Simanjuntak menegaskan bahwa dirinya merupakan orang dari kampung (huta) yang tetap mencintai budaya Batak meskipun hampir separuh dari hidupnya yang sudah 75 tahun  dihabiskan di luar negeri. 

Meskipun puisi-puisi dalam buku Parhutahuta Do Hami ini menampilkan aku lirik yang terkesan sebagai autobiografi, secara keseluruhan puisi-puisi mengingatkan kepada masyarakat berbudaya Batak agar tetap mencintai warisan leluhur budayanya dalam situasi apapun. Meskipun Panusunan Simanjutaak sudah puluhan tahun mengunjungi lebih 30 negara di dunia selama kariernya sebagai jurnalis, dan seluruh keluarganya tinggal di luar negeri, ia tetap mempertahankan budaya Batak dan menggunakan bahasa Batak sebagai bahasa keseharain.